Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Sastra

Saiko Ah Aih

Foto : Rudy and Peter/Pixabay
Foto : Rudy and Peter/Pixabay
Penulis : Tabas Gabe Mulia Siagian

Mulut terbelah dua
Lidah bergetar
Jantung berdetak
Melihat dan melirik tujuan kita
Mengerti dan dimengerti kemauanku dan dirimu
Beberapa arah menjadi panutan
Haluan berjalan seiring dengan kemauan
Hitungan dimulai dengan berawal dari nol
Langkah kaki dan ucapan mengiring tanpa henti
Manis pahit selalu berjalan namun tak sesuai
Tawa sedih belum melewati batasannya
Bahagia adalah hal spesial dan utama dalam hidup ini
Bersyukur menjadi langkah untuk terakhir
Berusaha tindakan utama
Berjuang jalan yang sesuai dengan kehendakku
Berdiam dan menyendiri tuk ku meraih kekuatan
Kini ku sadar arah jalan hidupku
Setiap malam berdoa untuk mengharapkan sebuah harapan
Tanpa ada yang mengetahui
Tak sesuai harapan itu ujian
Kini ku tak takut lagi walaupun diriku tau kelemahanku
Setiap malam selalu berharap hari esok
Kan menjadi tempatku tuk bersyukur
Menerima kenyataan sangat sulit tanpa lapang dada
Semua tidak akan pernah mengerti apa yang aku lakukan
Entah bagaimana aku kan membuktikan
Semua tanpa sebuah kepastian
Bak warna abu-abu yang terlukiskan
Menerima kenyataan sangat sulit bagiku
Tak putus dengan kata-kata
Aku sedang memikirkannya
Sepanjang malam dalam hidupku
Dengarlah ucapanku
Aku akan membangun benteng kekuatanku
Tak akan ada yang bisa merobohkannya
Bentengku sudah kuat tuk menerima kenyataan yang ada
Aku akan berteriak kepada mimpi-mimpi yang jauh di sana
Agar semua menjadi kenyataan tanpa ada halangan
Malam begitu indah tuk ku hayati jalan hidup ini
Menangis menahan kepedihan yang tak bisa dibendung lagi
Lagi dan lagi aku ingin meninggalkan kata-kata itu
Saat esok datang aku takkan ragu
Aku tak sendirian
Karena aku melihat kehidupan di sekitarku akan berubah
Tak bisa berbohong inilah kehidupanku
Aku ingin bahagia
Namun arah menunjukan yang lain
Ku tak bisa beri tahu betapa ku berharap ingin berdiam diri
Hingga akhirnya tingkahku seolah membayar semuanya
Saiko Ah Aih…..

Related posts

Puisi: Kala Itu

redaksi

Surga di Dalam Rumah Ku

suarausu

Yang Harus Dilindungi (Bagian 2)

suarausu