SUARA USU
Kuliner

Tempoyak, si Asam Penggugah Selera Khas Melayu

Oleh : Regita Ayuni Putri Ginting

Suara USU, Medan. Suku Melayu adalah suku yang tersebar dan menghuni sebagian besar Pulau Sumatera. Jika kita mengingat kata “Melayu”, yang mungkin langsung terbesit dalam pikiran adalah kebudayaannya. Salah satu kebudayaan Melayu yang diwarisi hingga saat ini adalah keanekaragaman kulinernya. Tempoyak, adalah salah satu dari sekian banyaknya makanan unik dan lezat khas tanah Melayu.

Tempoyak merupakan olahan dari hasil fermentasi daging durian yang bertekstur lembek, beraroma menyengat, serta bercita rasa asam. Sebagian orang awam mungkin enggan mencobanya untuk pertama kali. Namun ciri khas unik dari tempoyak itulah yang membuatnya semakin menarik untuk dicoba, sehingga menjadi makanan favorit dan penggugah selera bagi masyarakat Melayu, khususnya di Pulau Sumatera.

Proses pembuatan tempoyak sederhana namun cukup memakan waktu. Kita harus menyiapkan daging durian segar yang telah dipisahkan dari bijinya, kemudian ditambah dengan garam secukupnya. Selanjutnya, masukkan daging durian ke dalam wadah tertutup dan diamkan selama sekitar satu minggu. Setelah satu minggu, buka dan aduk rata durian fermentasi atau tempoyak yang sudah jadi. Tempoyak siap digunakan sebagai bumbu tambahan berbagai masakan.

Pengolahan tempoyak yang dilakukan dengan cara fermentasi, membuat tempoyak tahan lama dan bisa digunakan dalam berbagai masakan. Masyarakat biasanya mengolah tempoyak menjadi masakan seperti sambal tempoyak, gulai tempoyak nila dan patin, pepes, pindang tempoyak, tempoyak udang, dan lain sebagainya. Masakan dengan tambahan tempoyak sering disajikan untuk masakan sehari-hari tetapi tak jarang pula dihidangkan saat acara khusus, seperti hajatan dan pesta pernikahan.

Redaktur: Miranda Agnelya Naibaho

Related posts

Bubur Candil: Santapan Berbuka Puasa yang Tidak Boleh Dilewatkan!

redaksi

Mozarella Homemade, Olahan Simpel dengan Banyak Manfaat

redaksi

Cetak Prestasi, Pisang Goreng Menjadi Dessert Terenak di Dunia

redaksi