SUARA USU
Musik

Wake Me Up When September Ends, Kisah Pilu Kehilangan Sosok Ayah

Oleh: Mhd. Malvi

Suara USU, Medan. Wake Me Up When September Ends adalah salah satu lagu karya band Green Day yang dirilis sebagai single keempat dari album ketujuh mereka, American Idiot. Lagu ini berhasil menduduki peringkat enam di Amerika Serikat, menjadi lagu kedua Green Day yang memasuki “Top 10 single”. Lagu ini juga mencapai peringkat delapan di Kanada dan Inggris, sementara berada di peringkat tiga belas di Australia. “Wake Me Up When September Ends” tercatat terjual hingga 1.652.000 copy pada Mei 2010 dan menjadi penjualan singel tertinggi kedua mereka di Amerika dari album American Idiot, tepat di belakang lagu singel multi-platinum “Boulevard of Broken Dreams”.

Tahukah kamu bahwa dibalik lagunya yang mendulang sukses besar di beberapa negara, ternyata lagu ini bercerita tentang kisah sedih sang vokalis, Billie Joe Armstrong.

Vokalis Green Day Billie Joe Armstrong menulis lagu ini bercerita tentang ayahnya, yang meninggal karena kanker pada 1 September 1982, ketika Billie baru berusia 10 tahun. Di pemakaman ayahnya, Billie menangis, berlari pulang dan mengunci diri di kamarnya. Ketika ibunya tiba di rumah dan mengetuk pintu kamar Billie, Billie hanya berkata, “bangunkan aku ketika September berakhir,” begitulah judulnya.

Dalam lagu ini Billie mengungkapkan perasaannya tentang ayahnya, namun bukan itu saja makna yang terkandung dalam lagu ini. Bagi kebanyakan orang Amerika, bulan September dikaitkan dengan serangan teroris 9/11 tahun 2001. Banyak orang telah kehilangan orang yang mereka cintai karena tragedi itu dan September (yang masuk dalam album sebagai trek 11) tidak hanya terkait dengan kematian. ayah Billie, tetapi juga untuk keluarga korban 9/11, dan rasa sakit kehilangan orang yang dicintai secara umum.

Lagu ini berusaha menyampaikan pesan mengenai kebijaksanaan dan penerimaan, dimana salah satu liriknya disampaikan, “drenched in my pain again becoming who we are..” yang bermakna realisasi fakta bahwa semua yang kita lalui, semua rasa sakit dan kehilangan, semua kesulitan yang kita temui di sepanjang jalan dimaksudkan untuk membuat kita lebih kuat dan membentuk kepribadian kita.

Dalam video untuk lagu ini kita melihat pasangan muda yang terpisah karena keadaan. Ini menunjukkan pandangan sutradara terhadap lagu tersebut: kita harus menghargai orang yang kita cintai dan tidak pernah menganggapnya remeh, karena mereka dapat diambil dari kita kapan saja.

Redaktur: Yessica Irene

 

Related posts

Belajar Percaya Diri dari Lagu “Sydney”

redaksi

DPR Musikal, Sindiran Untuk Wakil Rakyat

redaksi

Lagu Runtuh: Kolaborasi Luar Biasa Fiersa Besari Bersama Feby Putri

redaksi