SUARA USU
Kabar Kampus

Mahasiswa Sesalkan Belum Tersedianya Zoom Meeting Premium untuk Keperluan Kuliah

Oleh: Muhammad Fadhlan Amri

Suara USU, MEDAN. Perkuliahan daring tentu memerlukan perhatian dan effort yang ekstra. Karena perkuliahan daring atau yang biasa disebut juga kulon (kuliah online) ini membutuhkan akses internet yang baik dan beberapa platform lainnya untuk menunjang kelancaran aktivitasnya.

Namun, sangat disayangkan terdapat beberapa kasus pada mahasiswa di USU, masih ada mahasiswa yang harus membeli zoom premiumĀ pribadi untuk keperluan kuliah. Padahal keperluan kuliah idealnya disediakan oleh pihak kampus dalam pelaksanannya. Hal ini disesalkan dan disayangkan oleh sejumlah mahasiswa.

Reza misalnya, mahasiswa Sastra Indonesia ini menjelaskan bahwa harusnya setiap prodi mampu menyisihkan sedikit anggaran untuk keperluan zoom premium yang mana zoom premium ini adalah kebutuhan pokok dari para mahasiswa.

“Jelas jadi masalah lah, seharusnya tiap prodi memberikan sedikit anggaran untuk pembelian akun zoom premium. Apalagi seperti saya, selaku komting yang selalu dimintai tolong oleh dosen untuk membuat link zoom, sedangkan saya tidak memiliki zoom premium kan,” ungkapnya.

Reza menambahkan bahwa jika menggunakan zoom yang tidak premium atau platform lain akan terdapat beberapa masalah dan kurang lengkapnya fitur ketika digunakan.

“Jika memakai akun zoom biasa, di dalam kelas hanya bisa selama 40 menit, sehingga mahasiswa dan dosen harus melakukan dua kali zoom untuk mencapai waktu perkuliahan. Di kelas saya, saya beli akun sendiri, pakai uang kas kelas kami. Tanpa dibiayai oleh pihak prodi sedikitpun,” sambungnya.

Senada dengan Reza, Saddam pun menuturkan bahwa hal ini jadi masalah yang masih sering dihadapi ia dan rekan juangnya.

“Ya, kami disuruh pake google meeting aja lah, walau paling enak zoom emang, jadi klo ada pertemuan besar yg penting tetap make zoom kami. Ya, bayar sendiri lah,” ungkap Saddam.

Roza, mahasiswi Fakultas Teknik mengatakan hal yang serupa terjadi juga di prodinya. Namun, ia mengungkapkan hanya beberapa dosen yang meminta untuk dibuatkan zoom premium, karena beberapa dosen kurang mengerti teknologi.

“Nah buat semester ini di aku sendiri cuma ada 2 dosen yg diminta untuk dibuatkan link zoom, karena gaptek (gagap teknologi),” tuturnya.

Saddam berharap akan ada penyelesaian dalam polemik zoom berkelanjutan ini. Ia ingin lembaga pendidikan di Indonesia dapat didaftarkan untuk keperluan akademis, karena ada pengecualian disana.

“Harapan aku sih indonesia ini bisa didaftarkan khusus lembaga pendidikannya buat make zoom premium bisa gratis. Kan ada tuh zoom for education,” pungkasnya.

Redaktur: Yessica Irene

Related posts

Puncak Acara Aku USU Bahas Ekonomi Islam

redaksi

Tiga Mahasiswa USU Berhasil Torehkan Prestasi Pada Ajang Duta Bahasa Sumatera Utara 2021

redaksi

Pelantikan Pengurus Baru IMAHARA, Ketua Umum Baru Harapkan Kolaborasi dan Terobosan Baru untuk Kebermanfaatan

redaksi