SUARA USU
Sastra

Aku (bukan) Calon Pengangguran

Oleh: Nurseha

Suara USU, Medan. Sebagai seorang mahasiswa aku memang punya banyak kekhawatiran tentang masa depan. Kekhawatiran itu selalu menghantui dan mengakar ke dalam pikiran. Kini, ketenanganku sudah banyak dicuri, aku semakin menuntut diriku agar serius dalam pilihan. Pilihan yang sudah kupilih setelah tamat SMA, yaitu kuliah. Dari pilihan itu, aku harus bisa bertahan dengan segala konsekuensi. Harus bisa berjuang, dan harus bisa menerima…

Alarm berdering nyaring dan berhasil membangunkanku yang tertidur setelah zoom kelas pertama selesai. Sesudah melihat jadwal, aku teringat ternyata ini sudah saatnya kelas pengantar Bahasa Inggris dimulai. Sembari menunggu pengumuman di google classroom, aku berusaha merapikan meja belajar dan  membuka jendela kamarku. Cahaya matahari pun menyusup dan memeluk kamar dengan kehangatan. Ini sudah pukul 11 siang dan baru sekarang aku sempat untuk membukanya. Aku yang panik karena tadi bangun terlambat,  hanya sempat membuka laptop dan meminum segelas air putih sebagai sarapan.

Tunggu ditunggu, dosen itu belum juga mengirim apapun di google classroom. Rasa lapar tidak dapat terbendung lagi, akhirnya ku putuskan untuk membeli beberapa cemilan di kedai yang cukup dekat dari rumah. Untuk berjaga-jaga, tak lupa aku membawa ponselku supaya tidak ketinggalan kelas siang ini. Sesampainya di sana, kehadiranku pun berhasil menyita perhatian ibu-ibu yang sedang bertengget di kedai Bu rita. Aku sendiri tak merasa heran dengan reaksi mereka. Aku memaklumi bagaimana penampilanku yang tidak rapi. Karena hanya memakai celana panjang berwarna pink dengan motif bunga-bunga, dipadukan dengan kemeja kusut berwarna putih. Sehingga  terlihat cukup aneh, aku pun berusaha untuk pura-pura nyaman dengan tatapan mereka.

Setelah memilih beberapa cemilan, sebuah notifikasi absen dari google classroom pun masuk. Aku kembali fokus dengan ponselku.

“Aduh, anak-anak zaman sekarang ya, asik banget sama handphonenya. Pergi ke mana-mana pasti dibawa,” ujar seorang ibu-ibu yang posisinya tengah duduk membelakangiku. Terbesit di hati bahwa yang mereka singgung adalah aku. Namun, aku berusaha untuk tidak peduli.

“Iya, jadi beban. Benar-benar beban. Nih ya, anak saya yang pertama baru aja tamat SMA langsung merantau ke kota. Sekarang udah kerja selama satu bulan, gajinya cukup besar. Bisalah beli kulkas 12 pintu,” kata seorang Ibu-ibu berbadan gemuk.

“Aduh, anaknya mandiri ya say. Gak mau tuh nyusahin mak bapaknya,” sambung temannya ikut menimpali.

“Ha betul. Saat teman-temannya memilih kuliah, anak saya cuma pengen kerja. Ngumpulin uang. Kuliah gak ada gunanya. Percaya deh, ujung-ujung tetap jadi penggangguran,” sambung ibu-ibu yang gemuk tadi.

Suasana pun  terasa sangat panas. Hatiku menjadi sangat sesak saat bertubi-tubi mereka mencela. Walaupun mereka tidak secara langsung menatapku, aku tahu siapa yang mereka tunjuk.

Karena tidak sanggup lagi, aku segera membayar beberapa makanan yang telah kupilih barusan. Namun, ibu-ibu yang tadi masih bercakap-cakap dengan nada yang menyindir sesekali mereka tertawa kosong. Bahkan saat aku hendak melangkah pergi, celaaan mereka masih berlanjut.

“Sarjana itu tidak menjamin untuk mendapatkan pekerjaan bagus,”

“Kuliah cuma ngabisin uang orang tua!”

“Calon pengangguran!”

Lalu diakhiri tawa nan sumbang. Aku mempercepat langkah dan secepat mungkin menjauh dari mereka.

Aku masih tak habis pikir, mengapa ibu-ibu itu memilih aku untuk menjadi topik diskusi mereka. Biasanya masing-masing mereka hanya saling mengadu nasib, menceritakan masa lalu yang terus diulang-ulang, atau membahas tentang kapan cairnya uang PKH. Mungkin karena telah kehabisan topik, jadilah aku sebagai bahan mereka pagi tadi. Sepanjang malam, perkataan mereka masih terngiang-ngiang. Bahkan, aku  tidak dapat tidur. Pikiranku masih saja terjebak pada  kejadian pagi tadi.

Sepanjang hari, aku kehilangan semangat, perkataan mereka sudah berhasil menjatuhkan mentalku. Aku semakin gamang menatap masa depan. Mereka sudah berhasil membuatku merasa bahwa apa yang ku pilih selama ini sangat sia-sia. Karena pikiranku berkecamuk, kuputuskan untuk berwudhu lalu mengerjakan sholat malam. Lirih tangisku saat mengadu kepada Sang Pencipta. Kutumpahkan segala kecemasanku pada-Nya.

Perlahan, kecemasan ini berkurang, sebuah ketenangan pun menyambut. Tak lama kemudian, aku mengambil sebuah spidol bertinta merah dengan sebuah kertas putih. Di atas kertas tersebut, aku pun menulis sebuah kalimat “AKU BUKAN CALON PENGGANGURAN”.  Setelah itu, aku menempelnya di setiap sudut kamar. Kini semuanya sudah membaik. Aku mengubah pandangan. Celaan mereka adalah sebuah motivasi bagiku. Celaan mereka akan mendorong diriku untuk belajar lebih giat dan menjadi pengingat kala aku terjebak rasa malas. Aku akan memperjuangkan masa depanku. Aku tidak perlu berkoar-koar untuk menjelaskan kepada mereka tentang apa yang telah kurancang.

Seperti Air tenang menghanyutkan.

Saat ini, yang perlu kulakukan adalah mempelajari banyak hal sebagai modal untukku di hari nanti.

Redaktur: Yessica Irene

 

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Pamit

redaksi

Mengembara Rindu ke Masa Itu

redaksi

1001 Luka

redaksi