Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
editorial

Anak Terlindungi, Indonesia Maju?

Oleh: Wirayudha Azhari Lubis

Suara USU,Medan. 23 Juli ditetapkan sebagai peringatan hari anak nasional. Di perayaan yang ke 37 ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI membawa tema ‘Anak Terlindungi, Indonesia Maju’. Tema yang dibawakan pada perayaan kali ini memang sangat berkorelasi erat dengan keadaan Indonesia yang saat ini tengah dilanda pandemi Covid-19.

Pandemi yang sudah berlangsung sejak Maret 2020 ini benar-benar melibatkan semua pihak termasuk anak-anak. Lalu pada perayaan HAN kali ini, muncul sebuah pertanyaan, sudahkah anak Indonesia sudah terlindungi?

Sama-sama kita ketahui bahwa di masa pandemi ini banyak aspek yang berubah. Aspek tersebut adalah sosial, budaya, dan ekonomi. Di tengah pandemi ini, tentu saja hal-hal tersebut mengalami degradasi, terutama sosial dan ekonomi.

Pada aspek sosial, anak Indonesia mengalami penurunan jauh, pasalnya setelah pemerintah menetapkan Covid-19 ini sebagai pandemi, ruang gerak masyarakat cenderung minim, termasuk anak. Hal ini dikarenakan kebijakan dan protokol kesehatan yang mewajibkan masyarakat untuk melakukan social distancing. Berdasarkan survey yang dikutip dari hasil survei pemenuhan hak dan perlindungan anak pada masa pandemi Covid-19  yang diterbitkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), anak lebih sering menghabiskan waktunya bersama gadget dibandingkan menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan sesamanya. Hal ini juga dikarenakan di situasi pandemi seperti ini anak sering merasa bosan hingga mencari pelarian kepada gadget dan bermain game online.

Pada aspek ekonomi, beberapa keluarga di indonesia juga mengalami penurunan pendapatan. Hal tersebut tentu saja dikarenakan banyaknya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di era pandemi ini, dan banyaknya PHK besar-besaran di era pandemi. Penurunan pendapatan keluarga di era pandemi ini tentu saja berhubungan dengan pemenuhan gizi bagi keluarga. Hal tersebut juga mempengaruhi anak-anak. Berdasarkan survey yang sama, ada sebagian kecil anak yang bila dipresentasikan ke dalam angka ada sekitar ± 27% anak mengalami penurunan nilai gizi. Penurunan nilai gizi pada anak tentu saja bakal mempengaruhi imun anak tersebut. Pasalnya, jika nilai gizi pada anak saja tidak seimbang dan kemudian terjadi penurunan imun, maka anak tersebut akan rentan untuk tertular virus apalagi virus Covid-19 ini.

Belum lagi, jika menyoal vaksinasi pada anak yang belum merata di Indonesia. Vaksinasi Pada anak berusia 12-17 tahun baru hanya dilakukan di daerah Jabodetabek. Penyebaran virus terhadap anak bukanlah hal yang mustahil. Berdasarkan grafik yang diakses dari laman covid19.go.id, hingga 28 November 2020 jumlah pasien terkonfirmasi ada 527.999 orang, 2,6%-nya adalah anak usia 0-5 tahun (sekitar 13.727 anak), dan 8,8% anak usia 6-18 tahun (sekitar 46.463 anak). Angka pada grafik ini akan memberikan gambaran jelas bahwa anak tak kebal terhadap Covid-19. Vaksinasi pada usia anak seharusnya tetaplah digalakkan demi terwujudnya tema perayaan Hari Anak Nasional ke 37 pada tahun 2021 ini.

Berdasarkan paparan diatas, menurut penulis sendiri, anak Indonesia belum benar-benar terlindungi, degradasi di berbagai aspek tersebut mengakibatkan kemunduran pada perlindungan anak di Indonesia. Karena selain harus sehat fisik, anak Indonesia juga harus sehat mental, sehingga dapat dikatakan terlindungi dan menjadikan Indonesia maju. Karena perayaan ini sejatinya untuk memperingati adanya eksistensi anak-anak di Indonesia. Selamat Hari Anak Nasional, semoga anak Indonesia terlindungi dan mewujudkan terjadinya Indonesia maju.

Redaktur: Yessica Irene

Related posts

Lebarannya Kaum Marginal

redaksi

Maraknya Buku Bajakan, Salah Siapa?

redaksi

Renungan Momentum Dies Natalis 69 Tahun USU

redaksi