Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Sastra

Berawal dari Sebuah Impian

Penulis: Okto Situmeang

Adit adalah seorang pelajar yang dapat dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter yang pantang menyerah dan memiliki semangat belajar yang tinggi, meskipun berasal dari kalangan ekonomi yang kurang mampu dan anak dari seorang kuli bangunan, namun tidak menghalangi niat baiknya untuk meraih impian dan keberhasilan di masa depan.

Keadaan sulit yang dialaminya sejak kecil telah memberikan dia sebuah pelajaran hidup yang berharga untuk menjadi seorang yang baik dan rendah hati.

Setelah selesai dari pendidikan SMA dengan bermodalkan tekad dan kemauan, akhirnya dia diterima di sebuah universitas swasta yang berkualitas di ibukota. Namun karena kondisi ekonomi Adit yang masih kurang mampu untuk membayar uang kuliah, maka Adit pun memutuskan untuk bekerja sambil kuliah, dia bekerja serabutan. Semua pekerjaan telah dilakoninya untuk menutupi kendala biaya kuliah.

Pada saat berkuliah, boleh dikatakan bahwa Adit tergolong orang sulit bergaul dengan mahasiswa lain, karena adanya perbedaan status sosial dan dia pun tidak terlalu pintar pada saat kuliah, teman-temannya selalu mengejeknya karena pakaiannya yang jorok dan juga sepatu butut yang dia miliki, namun dengan ejekan yang terus dia terima tidak menjadikannya lantas menjadi patah semangat karena masih ada seseorang yang selalu menyemangati dan mendoakan Adit yaitu ibunya.

Pada saat menempuh semester akhir, Adit pun dihadapkan pada suatu permasalahan yang besar.

Dengan suara yang nyaring dari microphone dan didengar oleh banyak orang, pak Jimmy selaku staff administrasi memanggilnya ke kantor tata usaha dan segera mengurus masalah administrasi. Dia pun memberanikan diri untuk pergi ke tata usaha, meskipun sudah mengetahui bahwa penghasilan orang tuanya sudah jauh berkurang sejak ayahnya menderita sakit keras.

Dengan hati yang penuh dengan ketakutan, akhirnya Adit memberanikan diri untuk menjelaskan kepada pak Jimmy mengenai kondisi ekonomi yang sedang melanda keluarganya.

Bukannya merasa bersimpati dengan keadaan yang sedang dialami Adit, pak Jimmy malah menegur dan marah kepadanya.

“Sudahlah Adit, dari dulu kamu selalu saja banyak alasan, kalau tidak mampu ya jangan bersekolah disini!“ sahut pak Jimmy.

Adit menjawab “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pak, sudah tiga bulan orang tua saya jatuh sakit dan kami pun tidak punya biaya”.

Dengan kejadian ini, lantas Adit menjadi bahan ejekan di kampusnya. Ada seorang teman yang sangat membenci Adit, namanya Anwar. Ia mendatangi Adit setelah selesai dari kampus dan mengejeknya.

“Heh!, dasar anak miskin gayamu saja yang banyak!“

Adit tidak pernah membalas ejekan temannya. Dia menjadikan ejekan yang diberikan oleh temannya sebagai motivasi untuk meraih keberhasilan.

Pada akhirnya tuhan pun mendengarkan doa-doa Adit. Adit lulus dengan nilai yang memuaskan. Berkat kepintaran dan doa yang diberikan oleh orang tuanya dia akhirnya diterima di sebuah perusahaan besar dan menduduki jabatan dan posisi yang penting di perusahaan tersebut.

Namun, nasib baik yang diterima oleh Adit sangat berbeda dengan nasib yang diterima oleh teman yang sering mengejeknya, yaitu Anwar.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Anwar justru kesulitan mencari pekerjaan. Anwar sudah berulang kali mengajukan lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan di ibukota namun selalu ditolak.

Pada suatu kesempatan, Anwar mengajukan lamaran pekerjaan di perusahaan tempat Adit bekerja. Dia belum mengetahui bahwa salah satu pimpinan di perusahaan itu adalah mantan satu kampusnya.

Pada saat bertemu dengan pegawai perusahaan tersebut, Anwar kembali mendapatkan penolakan.

“Mohon maaf pak, setelah kami mempelajari semua dokumen serta cv yang bapak berikan, kami masih belum bisa menerima bapak untuk bekerja di perusahaan ini”.

Dengan berat hati, Anwar meninggalkan gedung perusahaan tersebut.

Setelah Anwar keluar, Adit baru saja turun dari mobil yang ditumpanginya. Ia melihat sesosok pria dan berbisik dalam hati.

“Sepertinya aku mengenal orang itu, ia tampak tak asing bagiku”.

Adit menanyakan kepada karyawan perusahaan tersebut siapa pria yang terakhir dilihatnya. Adit mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Anwar, teman satu kampus yang dulu sering mengejeknya.

Adit langsung mengejar pria itu dan menemuinya. “Hei tunggu dulu!, kamu Anwar ya?“ sahut Adit.

Akhirnya setelah berbincang cukup lama, Anwar pun menjadi sangat malu dan merasa bersalah kepada Adit.

“Maaf ya Dit!, dulu saya sering mengejek mu”.

Berkat sifat mulia dan baik hati yang dimiliki Adit, ia memaafkan teman lamanya. Ia juga menawarkan Anwar untuk bekerja di perusahaan tadi, yang dipimpin oleh dirinya.

Anwar sempat menolak dan berkata, “Sudahlah Dit! tidak perlu. Maaf saya sudah merepotkan kamu,“

Namun Adit menjawab, “Tidak Anwar, kamu tidak merepotkan saya, bukankah sebagai sesama manusia kita harus saling tolong-menolong dan memaafkan? tenang saja saya sudah memaafkanmu,“ jawab Adit.

Anwar sangat bersyukur memiliki teman yang baik dan pemaaf seperti Adit. Serta menyesali perbuatannya terhadap Adit di masa kuliah.

Penyunting: Wiranto Asruri Siregar

Related posts

Puisi: Kala Itu

redaksi

Puisi: Abhitah Badimin

redaksi

Yang Harus Dilindungi (Bagian 3)

suarausu