SUARA USU
Buku

Beristirahat Ketika Lelah, Bersama Buku “Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah”

Oleh: Indah Sri Rezeki

“Untuk orang yang merasa lelah malam ini, dan tidak punya hal yang disukai: Kita sudah berjuang keras, bertahan melalui hari yang panjang ini dengan satu kesungguhan hati untuk melakukan yang terbaik.”               –Geulbaewoo

Suara USU, Medan. Dalam suatu masa, setiap orang pasti pernah mencapai titik di mana ia merasa lelah dengan keseharian yang dilakukannya. Aktivitas berulang yang membosankan, pekerjaan yang menuntut, tanggung jawab yang harus diselesaikan, atau mungkin tekanan lain yang silih berganti menghampiri kehidupan adalah sebagian kecil contoh hal melelahkan yang dirasakan banyak orang.

Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah adalah buku untukmu yang sedang merasa lelah dan tidak memiliki minat terhadap apa pun. Ini merupakan buku terjemahan dari karya aslinya yang ditulis oleh Geulbaewoo dalam bahasa Korea. Buku yang terbit pada tahun 2021 dan berisikan 250 halaman ini berisikan kumpulan esai yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis.

Geulbaewoo menuangkan pengalamannya berjuang menghadapi rasa lelah dan kecemasan akan kegagalan hidupnya di usia 20 tahun. Ia juga menuliskan tentang ups and downs kehidupan yang dijalaninya sehingga kemudian ia didewasakan oleh keadaan. Penulisan buku ini ditujukan akan membuat pembaca sadar dan paham bahwa sekuat apapun kita menjalani kehidupan, jangan lupa untuk beristirahat saat sedang lelah, serta lebih baik pula jika kita dapat melakukan hal-hal yang disukai dan diinginkan.

Buku ini terdiri atas beberapa sub-bagian dengan tiga bagian utama, yakni: Kau Pasti Bisa Mewujudkan Banyak Hal, Meski Harus Jatuh Bangun Berulang Kali; Untukmu yang Kelelahan karena Selalu Menahan Semuanya Sendirian; dan Kesuksesan yang Paling Menunjukkan Jati Diri. Dengan topik yang beragam, penulis mengemas esai ini dalam rentetan kalimat sederhana. Kegagalan, keputusasaan, proses bangkit, hingga menuju kesuksesan dan kebahagiaan adalah sebagian kecil gambaran topik yang ada di dalam buku ini.

“Hidup adalah lari maraton.

Meski kau tidak melakukannya dengan baik sekarang,

Ada banyak peluang bagimu

untuk melakukan dengan baik nantinya,” (hlm. 57) 

Tulisan yang dirangkai dengan kalimat-kalimat sederhana dan menghangatkan hati menjadi ciri khas dalam buku ini. Ada yang membangun, ada yang memotivasi, namun ada pula yang mungkin terkesan “menggurui” untuk beberapa keadaan.

Secara keseluruhan, buku ini nyaman untuk dibaca. Di malam hari, ketika kesunyian menenggelamkanmu ke dalam pemikiran mengenai kehidupan, atau ketika kamu merasa penat dengan kehidupan dan segala rutinitasnya, membutuhkan healing sejenak dari hectic-nya keseharian, buku ini cocok untuk menemanimu melalui saat-saat tersebut.

Mengutamakan diri sendiri tidak selalu berarti egois. Ketika kamu bisa berbuat baik bahkan ekstra kepada orang lain, lakukanlah hal yang sama pada dirimu sendiri. Jangan terlalu cemas. Istirahatlah ketika kamu merasa lelah dan temukanlah hal-hal yang kamu sukai.

“Semakin banyak kau menemukan hal yang kau sukai, akan semakin mudah kau mengatasi depresi, kelesuan, dan kesepian.” (hlm. 146)

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Merangkul Ketidaksempurnaan Melalui Buku ‘The Gifts of Imperfection’ Karya Brené Brown

redaksi

Utusan Damai di Kemelut Perang, Sudut Pandang Penginjil yang Jarang Terekspos

redaksi

Serial Wattpad Himpunan, Pengalaman Berorganisasi di Kampus yang Dituangkan dalam Sebuah Cerita

redaksi