SUARA USU
Featured Kabar Kampus Kabar SUMUT

Bersama Mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU, Menilik Efektivitas Program Therapeutic Community Dalam Mengurangi Relapse di LRPPN Bhayangkara Indonesia, Kota Medan

Suara USU, MEDAN. Metode kasus (case method) merupakan pembelajaran partisipatif berbasis diskusi untuk memecahkan kasus atau masalah. Dalam hal ini mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU, Tabita Loreansa Hura (190902024), bersama dengan rekan-rekannya yaitu Muhammad Fadhlan Amri (190902038), Intan Purnama Adri (190902018), dan Azizzi Munawwar Simbolon (190902062) mengangkat kasus mengenai efektivitas program Therapeutic Community dalam mengurangi relapse sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Penyalahgunaan Zat dan Penanggulangannya yang diampu oleh Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos,M.Kessos.

Lokasi penelitian dari kasus yang kami angkat ini adalah Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahguna Narkotika (LRPPN) Bhayangkara Indonesia, yang terletak di Gang. PTP No.8, Helvetia, Kec. Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara 20155. Kedatangan kami ke LRPPN Bhayangkara Indonesia untuk melakukan penelitian terhitung sebanyak 2 kali, yaitu pada tanggal 18 Maret 2022 dan dilanjutkan pada tanggal 25 Maret 2022. Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika (LRPPN) Bhayangkara Indonesia adalah salah satu panti rehabilitasi yang awalnya berdiri dengan bentuk lembaga, dan hanya berfokus pada pencegahan dan penyuluhan sejak tahun 2014. Kemudian pada tahun 2016, LRPPN membuka dan menerima klien untuk dibantu proses pemulihannya. Saat ini LRPPN Bhayangkara dipimpin oleh Rizka Novita selaku Direktur panti dan M. Taufik selaku Wakil Direktur Panti, dan tengah membantu proses pemulihan sebanyak 162 klien, yang dibantu oleh 15 Konselor dan 1 Pekerja Sosial.

Model yang digunakan pada terapi pecandu narkoba di LRPPN Bhayangkara adalah model Therapeutic Community (TC). Menurut Budi, Konselor Panti Rehabilitasi LRPPN yang telah berpengalaman sejak 2016, model TC ini dapat dimaknai dengan pemangkasan sosial dan memberikan ruang aman baru bagi klien dan menstimulus proses pemulihannya. Karena itu, model ini dipercaya  mampu  memberikan dampak positif kepada klien. Hal yang sama juga disebutkan oleh Said (2019) dalam jurnal “Literature Review: Persepsi Residen Pecandu Narkoba yang Menjalani Rehabilitasi terhadap Program Therapeutic Community” oleh Zulfah Khusnul Khotimah dan Ghozali MH, yang menyebutkan bahwa “Therapeutic Community bagi residen pecandu narkoba mendapatkan hasil yang dinilai adanya perubahan positif pada residen secara signifikan setelah menjalani rangkaian kegiatan dalam Therapeutic Community”. Masih dalam jurnal yang sama, Christianity (2019) menyebutkan “…bahwa jalannya Therapeutic Community yang dilakukan, responden memperoleh informasi kesehatan terhadap dampak dari penggunaan narkoba tersebut, sehingga mendorong responden untuk bisa pulih sebelum kembali ke lingkungan sosial masyarakat”

Lantas, apakah di LRPPN Bhayangkara terdapat relapse (seseorang yang sudah pulih, tetapi kembali menggunakan narkoba)? Budi menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2021 angka relapse LRPPN Bhayangkara menyentuh 30% dari keseluruhan kasus yang ditangani. Angka 30% ini sendiri diwarnai dengan berbagai motif dan permasalahan, dan umumnya klien menggunakan narkoba sebagai bentuk pelampiasan.  Kemudian jika TC dianggap sebagi model pemulihan yang paling baik, mengapa relapse bisa terjadi?  Dari hasil penelitian yang kami lakukan, ada beberapa hal dan fakta menarik yang terjadi dilapangan yang memicu terjadinya relapse, terutama pada klien LRPPN Bhayangkara yakni sebagai berikut:

  1. Program TC yang notabene merupakan pemangkasan perilaku cukup efektif membuat perubahan positif di diri klien dan membuat klien lebih disiplin. Namun, relapse juga memiliki keterkaitan antara konselor dan klien. Budi menuturkan bahwa relapse sendiri terjadi dominannya disebabkan oleh masalah dari internal klien yang belum selesai. Banyak dari mererka yang belum menyelesaikan proses pemulihannya dengan Konselor dan Peksos, tetapi pihak keluarga sudah meminta klien agar segera pulang. Alhasil, klien belum bisa menemukan solusi dari masalahnya, sehingga menjadi faktor terbesar klien menggunakan narkoba kembali.
  2. Budi menjelaskan bahwa, jika seluruh program telah diselesaikan dan klien keluar dari Panti Rehabilitasi LRPPN, jarang terjadi relapse. Jika ada, jarak waktu antara selesai pemulihan dan relapse, paling cepat sekitar 6 bulan. Namun, ketika program belum selesai dilaksanakan oleh klien, maka relapse akan sangat mudah terjadi dengan jangka waktu yang bahkan sangat cepat, yaitu bisa dalam tempo waktu 1×24 jam.
  3. Selain dari masalah internal klien yang belum selesai, fakor lain yang menyebabkan besarnya angka relapse di LRPPN Bhayangkara adalah lingkungan klien yang tidak baik setelah klien dinyatakan pulih dan dipulangkan. Konselor dan Peksos di panti rehabilitasi ini sudah sering mengingatkan bahwasannya klien yang sudah pulih tidak boleh dipulangkan ke lingkungan yang buruk untuk meminimalisir kekhawatiran klien untuk relapse, tetapi banyak pula keluarga yang tidak mengindahkannya.
  4. Dalam penanganan relapse, assessment akan dilakukan untuk mengetahui permasalahan dan memberikan penanganan yang tepat guna. Pada umumnya, kasus yang ditemui merupakan permasalahan NAPZA, oleh karena itu diberikan program “Cleanup” selama 3 bulan.

Salah satu hal yang menarik adalah, pada Panti Rehabilitasi LRPPN ini, pemberian keterampilan yang terdapat di program Aftercare, dilaksanakan selama 1 kali dalam satu tahun, sesuai dengan program dan kebijakan dari pemerintah. Pada umumnya, bantuan yang diterima juga maksimal 5 juta. Dan dalam pelaksanaannya, pihak Panti Rehabilitasi LRPPN yang akan memberikan informasi kepada para klien baik yang pernah maupun telah menyelesaikan program pemulihan. Dan hal ini bersifat adaptif, jika klien bersedia. Program pemberian keterampilan ini lebih terfokus untuk usaha dan akan disurvey serta dievaluasi keberhasilan program dan kontiniutasnya. Selain itu, pihak LRPPN juga telah bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja Komunitas Kota Medan untuk mengadakan berbagai workshop dan pelatihan. Dimana dalam satu kali pelatihan akan melibatkan sebanyak 20 klien dengan materi dan pembekalan berbagai hal seperti pembuatan lemari, latihan computer dan penanaman hidroponik.

Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian dengan melakukan wawancara, hasil penelitian mengerucut pada poin utama yaitu, program TC yang menekankan kedisiplinan dan juga segenap peraturan serta regulasi selama program berlangsung, mampu melahirkan semangat dan perubahan positif dari klien. Dan senada dengan pernyataan Budi selaku konselor, metode TC dapat mengurangi angka dan kemungkinan relapse.

Namun walaupun demikian, dikarenakan relapse merupakan permasalahan yang melibatkan dan disebabkan oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal, peneliti menyarankan untuk menggiatkan edukasi dan pemahaman kepada keluarga bahwa pentingnya untuk menjaga kestabilan dan memastikan klien menerima seluruh rangkaian program hingga usai dan benar-benar pulih.

Selain itu, perlu juga pembekalan yang lebih fundamental kepada klien agar mampu membentengi diri dari lingkungan ataupun segala hal yang mampu mencegah klien terjerumus kembali ke narkoba. Hal ini termasuk pula dengan pemberian keahlian ataupun semacam roadmap yang sekiranya mampu menjadi panduan dalam berkehidupan setelah rehablitasi nantinya.

Pustaka

Zulfah Khusnul Khotimah1, Ghozali MH. (2021).“Literature Review: Persepsi Residen Pecandu Narkoba yang Menjalani Rehabilitasi terhadap Program Therapeutic Community”. Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Volume 2, Nomor 2, April 2021.

Tim Penulis:

Tabita Loreansa Hura (190902024)

Muhammad Fadhlan Amri (190902038)

Intan Purnama Adri (190902018)

Azizzi Munawwar Simbolon (190902062)

 

Related posts

Paguyuban KSE USU Sukses Adakan Webinar Seputar Tips dan Trik Menjadi Mahasiswa Berprestasi

redaksi

HIMALA USU Adakan Rekrutmen Terbuka, Ajak Mahasiswa Langkat Untuk Ambil Peran

redaksi

Dedikasi Lagu Terraform Untuk Penambang Kawah Ijen

redaksi