SUARA USU
Buku

Cinta 2 Kodi, Cerita Ketangguhan Perempuan Pebisnis

Oleh : Agus Nurbillah

“Serupa butakala, Kau menikam mimpiku.” (Asma Nadia, Cinta 2 Kodi).

Asma Nadia dikenal sebagai salah satu penulis best seller paling produktif di Indonesia. Sudah 53 bukunya diterbitkan dalam bentuk novel, kemudian cerpen dan non fiksi. Penulis novel “Cinta 2 Kodi” ini memiliki segudang prestasi nasional dan internasional. Saat ini bersama para relawannya, Asma Nadia menggagas Rumah Baca AsmaNadia, perpustakaan gratis bagi dhuafa. Kini telah berdiri 219 perpustakaan yang tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali Irian, hingga Hongkong.

“Cinta 2 Kodi”, mengisahkan perjuangan seorang wanita yang berjuang dan teguh mencapai mimpi-mimpinya.

Perempuan mana yang tak ingin hidupnya dipenuhi pendar kebahagiaan? Tetapi waktu sering kali tak menyisakan ruang untuk bertanya, bahkan sekadar menarik napas. Kartika tahu betul rasanya terabaikan dan kehilangan kepercayaan diri, justru disebabkan orang terdekat. Dia juga mengerti bagaimana menjadi yang terbuang.

Kisah Kartika dimulai pada 1998 saat krisis moneter sedang melanda negara-negara di Asia, termasuk Indonesia. Kartika dan Farid, sepasang suami-istri ini terhembus kepanikan atas krisis yang melanda mereka dan seluruh rakyat. Mereka tahu, dalam kondisi sesulit apa pun harus mempertahankan idealisme dan logika, serta tidak mengikuti langkah panik para pemburu dollar yang mencari keuntungan di kesempitan yang sedang terjadi saat itu.

Dinding Batu

“Kenapa Bunda bersembunyi?”

Pertanyaan amanda ditanggapi ayahnya dengan memasang tampang semisterius mungkin hingga dua putrinya ingin tahu.

“Tempat persembunyian Bunda itu untuk membuat keajaiban.”

“Apa itu keajaiban…?”

Setelah Farid menerangkan, Amanda dan Emeralda merengek meminta dibuatkan tempat keajaiban. Farid berpikir sejenak sebelum menggunakan selimut dan digelar tidak memanjang, melainkan melintangi kasur hingga menutupi kolong tempat tidur anak-anak. Dialog ini luput dari Kartika yang terlalu sibuk menghitung dan mengkaji rencana bisnisnya.

“Bagaimana kalau kita bekerja sambil menjual baju dari Tanah Abang?” tanya Kartika ke Farid, suaminya.

“Yakin peluangnya bagus?” jawab Farid.

Kaget dengan ide yang muncul tiba-tiba, Farid merasa harus mencerna lebih dahulu. Sebagai kepala keluarga, dia harus mengecek kesiapan pasangannya sebelum memulai bisnis.

Setelah berapa waktu terdiam seperti menimbang-nimbang, Farid mengerucutkan bibir. Anggukannya terasa seperti udara segar di pagi hari bagi kartika.

“Baiklah, Uda akan jadi tukang angkut dan antar yang siap melayani Ibu Kartika.”

Setiap hari mulai dari pagi hingga malam, ada saja kegiatan dan bahan pikiran yang Kartika buat. Setibanya Ia pulang dari kantor, keinginan istirahat terpaksa ditunda sebab Kartika mesti melakukan evaluasi, mencatat keuangan, memikirkan desain dan detail lain terkait usahanya.

“Pakai ini !” tutur Ibu Kartika.

“Untuk…?” jawab Kartika yang sedang bingung.

“Untuk mengikat.” jawaban singkat yang disampaikan sambil mengelus kepala putrinya.

Bagi kartika selendang dari ibunda mengandung filosofi yang kental, mengikat rezeki di tengah kelelahan luar biasa, mengikat relasi bisnis, bahkan mengikat sepasang suami istri agar semakin harmonis.

Hari demi hari sepasang suami istri itu bekerja makin keras. Kartika melihat potensi besar hingga otaknya selalu berpikir untuk mengembangkan usaha mencari pemasok, bahkan Farid sebagai laki-laki nyaris tidak kuat mengikuti ritme kerja Kartika yang sangatkeukeuh mengejar target. Mereka berbagi keletihan yang hampir sama. Tetapi Kartika yang sedang diselimuti semangat dan ambisi, tidak mampu melihat semua dengan jernih. Rasa khawatir diam-diam terus menghantui Farid.

Jalan berbatu itu adalah kamu, kuda beban itu adalah aku.

“Jangan membawa telur dalam satu keranjang,” begitu kata pepatah cina. Dengan dua sumber penghasilan yang berjalan baik, seandainya terjadi apa-apa yang menyebabkan suatu keranjang hancur masih ada keranjang yang lain yang membangunkan harapan.

Hingga pada suatu hari Farid akhirnya berhenti dari pekerjaannya di tempat pertambangan, dan Kartika terpaksa mengundurkan diri karena Ia telah dijebak dan difitnah oleh salah seorang rekan kerjanya. Jika Ia memilih bertahan, Ia tersiksa dengan pekerjaan yang diada-adakan, keberadaannya dipersulit, tetapi jika Ia pamit, Kartika akan kehilangan penghasilkan tetap dan pesangon yang menjadi hak.

“Ikuti suara hatimu, rezeki datang dari Allah bukan manusia !” Ucap Farid meyakinkan istrinya.

Pasti ada hikmah. Dibalik setiap kesusahan selalu menanti pintu kemudahan, Kartika percaya itu.  Dengan berhenti bekerja, hari-hari dicurahkannya hanya untuk bisnis. Kartika mengumpulkan segenap konsentrasi untuk mengurus penjualan pakaian sisa ekspor.

Satu demi satu peraihan lebih baik terwujud. Janji Allah kembali terbukti. Kadang kita membenci suatu yang sebenarnya baik untuk diri sendiri. Berawal dari dua kodi kain saja, kini usaha Kartika semakin menjadi berkembang, hingga akhirnya Ia mendapatkan orderan cukup banyak, yaitu 1000 potong pakaian.

Namun sangat disayangkan, dibalik kesuksesan yang sedang Ia rasakan, membuat diri Kartika hampir saja berubah. Ia sibuk dengan bisnisnya hingga menyerahkan urusan anak-anaknya kepada pengasuh dan ibunya di rumah. Hingga suatu ketika Emeralda sedang sakit dan sangat membutuhkannya, di saat itulah Kartika tersadar perannya sebagai seorang ibu.

“Layar sudah terbentang, gelombang sudah menantang, pantang buatku surut ke belakang.”

Usaha yang semula sehat secara bertahap, kini merosot hingga jadi pesakitan. Produk yang dihasilkan dari bisnis yang kartika kelola, kalah saing dengan barang Cina dengan kualitas bagus dan harga yang murah sehingga usaha Kartika merosot hingga ke titik yang paling rendah.

Berhari-hari Kartika memutar kepalanya hingga muncul sebuah gagasan untuk kembali membangun sebuah usaha yaitu dengan berbisnis mukena. Fahri tak tahu harus berkata apa, tapi dia mengerti benar kalau istrinya sudah yakin, seperti yang sudah-sudah, dia kan keukeuhmewujudkan keinginan. Apa lagi yang sanggup lelaki itu utarakan diantara wajah bercahaya dan mata gemintang istrinya.

Keukeuh

Kartika mulai menjahit mukena rancangannya, bibirnya tak henti mengukir senyum merasakan setiap getaran yang mengalir dari hati ke ujung jari jari, menjalar terus hingga kedua kaki yang bergerak melajukan mesin jahit.

“Cuma dua kodi?” ucap Farid.

Sorot mata Farid membayangkan keheranan, barangkali melihat antusias luar biasa dari konsumen mukena yang ditujukan kepada teman-teman anaknya, yaitu Amanda dan Emeralda.

“Kamu tidak tahu seberapa jauh cinta dua kodi ini akan menerbangkanmu,” cetus Kartika mengulang penjelasan suaminya ketika dulu mengungkap cinta.

Untuk kesekian kali Kartika mengawali dengan dua kodi, sebesar cinta Farid padanya. Jumlah bijak bagi mereka yang baru saja memulai langkah kecil dalam usaha keluarga.

Memasuki bulan Ramadhan,  produk “Mukena Barbie” milik Kartika dengan cepat menjadi buah bibir pembicaraan yang menular di berbagai kalangan, “terobosan cerdik.” komentar banyak orang. Usahanya dari awal, jatuh bangun memulai bisnis tidak sia-sia. Tetapi tidak ada kesuksesan tanpa tantangan, beragam ujian telah menimpa Kartika dan Farid dalam menjalankan usaha yang mereka rintis bersama dari nol.

Bagi Kartika dan Farid sekeluarga, mereka semakin percaya Sang Pencipta tak pernah memalingkan wajah atau berpangku tangan saat menemukan hamba-hamba-Nya bekerja keras mewujudkan mimpi demi mimpi.

Begitulah kisah perjuangan Kartika dan Farid yang memulai bisnis “KeKe Busana” dengan penuh perjuangan dan kesabaran yang dibungkus dengan semangat dan cinta.

Bagaimana mengalahkan kesulitan demi kesulitan yang Tuhan hadirkan dan mengubahnya menjadi keberhasilan demi keberhasilan.

Penyunting: Yulia Putri Hadi

Related posts

Seandainya Aku Bisa Menanam Angin

redaksi

Membangun Kebiasaan Baik Melalui Atomic Habits

redaksi

Coalruption, Elite Politik dalam Pusaran Bisnis Batubara

redaksi