SUARA USU
Kabar Kampus

Dari Staff Hingga Sekretaris Jendral, 63 Pengurus PEMA USU Direshuffle

Oleh: Muhammad Fadhlan Amri dan Gracyan Eukario Sembiring

Suara USU, MEDAN. Lewat Surat Keputusan yang ditandatangani secara tunggal oleh Presiden Mahasiswa Universitas Sumatera Utara, Rizki Fadillah pada 8 Agustus lalu sebanyak 63 pengurus Pemerintahan Mahasiswa USU Kabinet Reka Cipta direshuffle. Dari 63 pengurus yang direshuffle ada beberapa nama dengan jabatan penting, seperti Andreas Silalahi yang merupakan Sekretaris Jendral, Novi Cintya selaku Staff Khusus Bidang Perekonomian, 3 Menteri Koordinator, dan 7 Menteri.

Bahkan, dalam Surat Keputusan tersebut seluruh pengurus Kementerian Kebijakan Nasional yang dikomandoi Annisa Maharani atau yang biasa dipanggil Icha direshuffle secara total. Icha sendiri, selaku Menteri Kebijakan Nasional mengaku tidak pernah ada koordinasi terkait pembotakan terhadap kementrian yang ia pimpin.

“Ga ada. Mereka semua ya kaget lah, bedanya aku langsung leave aja gitu. Udah ngerasa ga dihargain juga, wakil sama sekretaris aku dikick (dari grup). Yang aku kecewakan itu, okelah misalnya ada beberapa orang di pengurus PEMA USU itu ada muatan politis satu sama lain. Tapi ada loh, yang masuk PEMA bener-bener mau belajar,” ungkap Icha.

Icha menilai, staff dan pengurus di Kementeriannya memiliki semangat berorganisasi dan tidak ada kesalahan fatal yang membuat anggotanya layak direshuffle atau dicopot.

“Mereka itu sampek nanya kaya Bang kenapalah aku dipecat? Apa karena jarang piketnya aku? Bayangkanlah kek se-polos itu,” tutur Icha.

Senada dengan Icha, Andreas juga turut mengungkapkan kekecewaannya. Andre menuturkan bahwa ia dengan Presma (Rizki Fadillah) sudah tidak berkomunikasi sejak 8 Agustus, dan puncaknya ketika reshuffle ini terjadi.

“Dari awal sudah maladministrasi. Yang aku kritik disana dari awal, aku udah bukak komunikasi dengan Rizki (sambil memperlihatkan chat dengan Presma USU). Kenapa juga kan kaya gituDari awal dia ga balas chat. Dari tanggal 8 Agustus ini, PEMA ada mengeluarkan surat. Surat itu kan atas persetujuanku meskipun Rizki Presiden Mahasiswanya. Disini aku kecewanya Presiden Mahasiswa mengeluarkan surat tentang aksi, tetapi ini pakek kop PEMA, nomor PEMA, tapi lihat agendanya Aliansi Mahasiswa Bantu Rakyat kan gak logis. Dari sini udah payah (red: sulit) komunikasi, kenapa tugasku diambil kan gitu?” terang mahasiswa Kehutanan ini.

Andreas selaku salah satu pucuk kepemimpinan di PEMA USU menyayangkan hal ini. Terlebih ketika menyampaikan kekecewaan ke Anas, sang Wakil Presiden Anas juga tidak tahu menahu terkait reshuffle ini.

“Ini bukan reshuffle, ini namanya PAW. Pergantian Antar Waktu, Kalo reshuffle itu udah tau siapa yang diganti siapa. Dari situ aja udah salah. Ini ya, bahkan Anas aja gatau reshuffle ini pas kutanya. Padahal surat tertera ditandatangani di Medan, yang di Medan kan Anas tapi bisa Anas gatau,” ungkapnya.

Cukup menarik memang menilik kasus reshuffle yang lebih mengarah ke pencopotan ini, pasalnya beberapa tokoh yang “direshuffle” adalah orang-orang yang berjasa dalam membawa Kolega USU, tim pemenangan Rizky-Anas kala pemira.

Andreas juga turut membandingkan PEMA USU dengan BEM lain yang menurutnya sudah jauh progressnya. Ia juga menilai tidak adanya transparansi dalam “reshuffle” kali ini membuat USU jauh terpuruk dari BEM lain.

“Kita jauh tertinggal dari BEM lain bisa dibilang, BEM lain kaya UGM kalau ada PAW atau reshuffle diumumun di IG-nya. Ada transparansi, kita teriak tuntut transparansi sedang kita ke dalam aja gini,” sesal Andreas.

Redaktur: Zukhrina Az-Zukhruf

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

HIMIS dan KAMUS Harapkan Kongres Mahasiswa Dilaksanakan Tahun Ini

redaksi

Mengenal Para Paslon pada Pemira FH USU 2021

redaksi

Talkshow dan Diskusi Inspiratif Bersama SHELL ADVANCE

suarausu