SUARA USU
editorial

Filosofi Stoicism, Hidup Bahagia dengan Mengelola Ekspektasi

Oleh: Atika Larasati

Suara USU, Medan. Pernahkah kamu memiliki ekspektasi tinggi? Banyak hal yang sudah kamu lakukan dan korbankan, tetapi hasilnya tidak sesuai ekspektasimu? Lantas, apa yang kamu rasakan saat itu terjadi? Sedih, kecewa, stres, atau bahkan frustasi?

Ekspektasi kadang tidak sesuai dengan realita yang ada. Sesuatu yang berada di luar kendali kita dan tidak dapat diubah. Hal yang bisa kita ubah hanyalah bagaimana pandangan kita terhadap realita tersebut. Kira-kira, begitulah sistem dari filosofi stoicism. Seorang stoik lebih berfokus pada apa yang bisa ia kendalikan dan tidak memiliki ekspektasi tinggi terhadap pencapaiannya.

Stoicism muncul pada zaman yunani dan romawi kuno, dicetuskan oleh Zeno, filsuf Yunani Kuno pada awal abad ke-3 sebelum masehi. Filosofi ini semakin berkembang oleh tiga tokoh terkenal penganut stoicism, yaitu Kaisar Marcus Aurelius, Epictetus, dan Seneca. Sudah beribu tahun berlalu, filosofi ini masih relevan hingga sekarang, untuk setiap kalangan apapun dan semua usia.

Filosofi stoicism membantu kita untuk hidup selaras dengan realita dan menerima kondisi yang ada sehingga kita lebih bersyukur dan menemukan kebahagiaan.

Bukan berarti rendah diri, mudah menyerah, ataupun terlalu pasrah. Para stoik lebih menikmati proses yang ia jalani daripada hasilnya. Mereka memaksimalkan sesuatu yang bisa dikendalikan dan mengharapkan hasil terbaik, tetapi juga mempersiapkan skenario terburuk yang mungkin akan terjadi. Mereka melakukan itu agar tidak begitu terkejut dan terpuruk jika realita tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Saat menghadapi masa sulit, para stoik dapat bersikap tenang, tahan mental, dan memiliki emosi yang seimbang. Mereka dapat menguasai diri dan cenderung tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Mereka tidak memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, tetapi mengupayakan usaha dengan maksimal. Usaha yang tentunya dapat ia kendalikan. Karena secara tidak langsung, ekspektasi yang tinggi dapat membunuh kebahagiaan. Meskipun demikian, seorang stoik bukan berarti tidak bisa merasa kecewa dan kesal. Hanya saja, mereka memiliki pandangan dan emosi yang stabil dalam menghadapi kegagalan. Hal ini terjadi karena mereka sudah memiliki gambaran atau rencana lain bila menghadapi skenario terburuk.

Jadi, apa kamu tertarik menerapkan filosofi stoicism ini di kehidupanmu? Atau bahkan, kamu sudah menerapkannya?

Redaktur: Yessica Irene

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Gampang Terdistraksi, Kembalikan Fokusmu Dengan Cara Ini

redaksi

Perguruan Tinggi Bukan Hanya Pencetak Buruh

redaksi

UAS Online VS UAS Offline, Mana yang Lebih Asyik?

redaksi