
Oleh:Muhammad Alif, Siti Nurfadilla, Ratiza Yuli Sari Siregar, Rika Andriani, Zacky Adimas Deswara, Jeni Sri Paskah Gea, Syukur Iman Setia Gulo, dan Miftah Adelia RusmanĀ
Suara USU, Medan. Isu keberlanjutan lingkungan dan perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang menuntut perubahan perilaku secara mendasar. Sebagai respons kolektif, adopsi Green Lifestyle atau pola hidup ramah lingkungan semakin masif, tampak melalui praktik seperti mengurangi konsumsi barang baru melalui thrifting, pengurangan plastik, hingga urban farming. Di tengah perkembangan ini, Generasi Z kelompok yang sangat melek teknologi muncul sebagai agen perubahan utama. Di Kota Medan, terutama di kalangan mahasiswa dan komunitas, terlihat adanya pergeseran nilai dari gaya hidup konsumtif menuju pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Pola hidup ramah lingkungan berakar pada Etika Lingkungan, yakni prinsip moral yang menuntut manusia bertanggung jawab atas dampak setiap tindakan terhadap kelestarian bumi. Nilai ini tercermin dalam berbagai praktik yang kini banyak diadopsi Gen Z Medan. Thrifting misalnya, bukan lagi sekadar pilihan ekonomis, tetapi menjadi bagian dari kesadaran lingkungan untuk memperpanjang siklus hidup produk dan mengurangi limbah tekstil. Barang thrift yang unik dan bergaya retro juga memberikan ruang ekspresi diri bagi Gen Z, sekaligus mendukung konsep Circular Economy yang menekankan penggunaan kembali, perbaikan, dan daur ulang barang.
Kesadaran ini turut diwujudkan melalui komitmen Zero Waste dengan prinsip 5R yakni, Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot. Di kota seperti Medan, yang masih bergantung pada plastik sekali pakai, peran Gen Z sangat krusial. Mereka hadir melalui kebiasaan membawa botol minum, menggunakan totebag, mendaur ulang sampah, hingga membuat kompos dari limbah organik. Langkah-langkah sederhana tersebut menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.
Sementara itu, praktik urban farming semakin banyak diminati sebagai solusi inovatif terhadap masalah lingkungan dan sosial perkotaan. Bercocok tanam di lahan sempit baik di pekarangan rumah, balkon, maupun atap bangunan membantu meningkatkan ketahanan pangan, menyediakan sayuran segar yang terjangkau, serta mendatangkan manfaat psikologis seperti mengurangi stres dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam komunitas. Kehadiran urban farming dalam lingkungan kampus, termasuk di Universitas Sumatera Utara (USU), juga berpotensi memperkuat konsep Green Campus melalui kegiatan edukasi, penelitian hidroponik, dan pemberdayaan mahasiswa.
Kesadaran dan praktik ramah lingkungan ini semakin kuat berkat peran teknologi digital. Gen Z dikenal selektif dalam pengeluaran dan memanfaatkan informasi daring maupun luring untuk memutuskan apa yang mereka beli. Platform seperti Shopee, X (Twitter), dan TikTok berperan besar dalam membentuk sikap dan preferensi mereka terhadap merek berkelanjutan. Konten edukatif dan kampanye visual yang menarik membuat pesan tentang thrifting, Zero Waste, dan urban farming menyebar cepat, sehingga menginspirasi lebih banyak anak muda untuk ikut berkontribusi.
Secara keseluruhan, Generasi Z Medan memiliki potensi besar dalam membangun budaya Green Lifestyle di perkotaan. Melalui praktik thrifting, penerapan Circular Economy, komitmen Zero Waste, dan pemanfaatan teknologi digital, mereka tidak hanya berhemat dan mengekspresikan diri, tetapi juga berperan aktif menjaga lingkungan kota dari masalah sampah dan konsumsi berlebihan. Gen Z menjadi pilar penting dalam mewujudkan masyarakat yang lebih bertanggung jawab, berkelanjutan, dan peduli terhadap masa depan bumi.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliaj Pendidikan Pancasila dengan dosen pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.,
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment