SUARA USU
editorial

Jika Senioritas Masih Diwajarkan, Mahasiswa Masih Belum Keluar dari Zaman Kebodohan

Oleh: Muhammad Fadhlan Amri

Suara USU, MEDAN. GE, mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya menambah rentetan tinta merah, jejak kelam pendidikan Indonesia, terlebih lagi di bangku perguruan tinggi.

Tidak bisa dinormalisasi, tetapi pil pahit harus kita sama-sama telan karena di kenyataan, kekerasan di bangku perguruan tinggi masih acap kali kita temui, tak jarang terjadi bukan 1-2 kali terjadi, miris sekali. Lebih buruk lagi, keadaan semakin diperkeruh dengan masih banyak mahasiswa yang menormalisasi dan mengamini tindak senioritas, tindak main jago sendiri ini.

Dengan berbagai dalih, entah itu tradisi, entah itu dinilainya ada urgensi tersendiri atau merupakan selebrasi atas semua yang ia lalui.

Tak terkecuali di kampus hijau, di beberapa lingkungan yang ada di kampus tindak masih dapat kita temukan. Di beberapa jurusan, atau organisasi sekawasan, tindakan “abang-abangan” ini biasanya dibalur dengan embel-embel “Malam Keakraban”, “Malam Pembinaan”, “Inagurasi” dan masih banyak lagi.

Entah pembinaan macam apa, keakraban bentuk apa dan perkenalan seperti apa yang ingin dihasilkan dari tindak-tindak tidak berprikemanusiaan, lagi banyak kekerasan.

Kata senior yang diemban harusnya menjadikan ia sebagai mahasiswa percontohan, patron dan partner dalam pembelajaran, dalam kebaikan, dan dalam kebermanfaatan. Mahasiswa yang sudah seharusnya menerapkan nilai-nilai intelektualitas harusnya mampu mewariskan kebenaran bukan menormalisasi sebuah kesalahan.

Kalimat klise macam “Senior tidak pernah salah” acap kali terdengar gaungnya dalam tindak senioritas dan tindak premanisme ini. Tentunya sikap otoriter para senior ini merupakan sebuah penghinaan bagi diri mereka sendiri yang katanya paling gencar berdemokrasi di tengah jalan dan di mimbar sana-sini.

USU yang menerapkan sistem miniatur negara dalam berdemokrasi kian terasa aneh, kian terasa menjijikkan jika tindak otoritarian ini kian dinormalisasikan. Sampai kapan pembodohan berkelanjutan ini akan terus kita biarkan?

Tradisi yang membuat organisasi dan ide-ide cemerlang mati, warisan yang mematahkan semangat kebermanfaatan karena takut akan diberikan kekerasan jika terlalu banyak mengutarakan pandangan. Sebuah kesia-siaan, sungguh kita semua masih belum sadar dari kebodohan jika hal ini masih terus kita biarkan.

Budaya kaderisasi harusnya mampu melahirkan pemimpin-pemimpin, gagasan-gagasan terbarukan yang mampu memberikan kebermanfaatan lebih baik dan lebih luas lagi. Sudah seharusnya kita semua mendeklarasikan diri sebagai orang yang anti terhadap tindak kesalahan, sudah seharusnya kita menjadi batu cadas yang tetap berdiri tegak pada kebenaran ditengah kuatnya arus pembodohan.

Panjang umur kebenaran, panjang umur.

Redaktur: Yessica Irene


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Pungli, Korupsi Kecil yang Jarang Diperhatikan

redaksi

Benarkah Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 Legalkan Seks Bebas?

redaksi

Makna Natal di Tengah Pandemi

redaksi