SUARA USU
Buku

Kitchen, Kesendirian Bukan Solusi atas Kehilangan

Foto : m.famela.com

Oleh : Nurjana Sihombing

Suara USU, Medan. Kitchen diawali dengan narasi Sakurai Mikage yang amat menyukai dapur. Ia ditinggal mati oleh neneknya yang merupakan satu-satunya anggota keluarga yang ia punya. Mendengar berita itu, Tanabe Yuichi seorang pemuda kenalan nenek Mikage memberikan Mikage tawaran untuk tinggal bersamanya dan Ibunya.  Mikage yang tengah merasakan kehampaan dan kebingungan hidup sebatang kara akhirnya menyetujui tawaran tersebut.

Tinggal bersama keluarga Tanabe Yuichi ternyata sedikit banyak membantu Mikage dalam menjalani hari-harinya. Ia suka dapur rumah itu, dan menyukai Eriko sebagai sosok seorang ibu, nenek, yang memberinya kasih sayang. Kesedihan mendalam kembali mendatangi Mikage saat ia mengetahui bahwa Eriko telah dibunuh oleh seseorang di tempat Eriko bekerja. Yuichi kini bernasib sama seperti Mikage, hidup sebatang kara.

Kitchen mengajak kita untuk memahami bagaimana keadaan seseorang yang mengalami kehilangan pasca kematian orang-orang yang disayangi. Tentang bagaimana orang-orang tersebut menyikapi rasa kehilangan itu.

Menurut novel ini, kesendirian bukanlah jalan keluar. Kesendirian malah membuat seseorang semakin menyadari terdapat lubang hitam yang bisa saja membawa kita masuk lalu hilang di dalamnya. Maka, kita butuh seseorang yang lain untuk membantu kita menutup lubang itu. 

Sebaiknya mencoba merawat sesuatu, entah anak atau tanaman. Soalnya, kita jadi mengerti keterbatasan yang kita miliki. Dari situlah hidup bermula.” (53)

Yoshimoto Banana sangat cerdik dalam memilih diksi dalam novel Kitchen ini. Ia piawai dalam mendeskripsikan perasaan hingga pembaca ikut merasakan kesedihan, kehampaan, dan kebingungan yang dirasakan setiap tokoh. Ia juga kerap kali mendekskripsikan keadaan langit, cuaca, dan suasana hati tokohnya untuk menambah kesan melankolis di dalam cerita. 

Namun, pembaca mungkin akan dibuat bingung mengapa Yoshimoto Banana memberikan judul “Kitchen” untuk novel ini, karena hingga akhir kisahnya selesai, pembaca tidak akan kunjung mendapatkan jawaban apa yang spesial dari dapur dan apa filosofi dapur yang diyakini Mikage hingga ia sebegitunya dalam menyukai dapur.

Redaktur : Theresa Hana


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Public Feelings and Other Acts: Kegelisahan Banyak Orang

redaksi

Melirik “Mata yang Enak Dipandang”

redaksi

Menilik Pesan Buku Arus Balik

redaksi