SUARA USU
Kabar Kampus

Konsep Pembelajaran Baru MKWK Berbasis Proyek, Ini Keluhan Mahasiswa!

Reporter: Suranti Pratiwi

Suara USU, Medan.  Implementasi Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) berbasis proyek di Universitas Sumatera Utara (USU) merupakan konsep pembelajaran baru bagi mahasiswa stambuk 2021 yang diterapkan pada semester genap 2021/2022. Pembelajaran baru di bawah naungan UPT PP LIDA USU ini bertema “Kerukunan Antar Umat Beragama di Sumatera Utara”, dengan memberikan mahasiswa kesempatan untuk berkolaborasi dalam pembelajaran proyek berbasis kelompok (Team Based Project).

Setiap kelompok menyiapkan presentasi atau proposal serta karya akhir yang ditampilkan kepada dosen, kelas, atau audiens lainnya (USU MKWK Fair) yang akan dikonversi menjadi nilai UTS dan UAS. Mata kuliah yang termasuk MKWK adalah Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia dengan bentuk kegiatan proyek berupa pementasan drama, pementasan tari, pementasan puisi, lagu pementasan parodi, FGD, flyer, stand up comedy, siaran radio, dan debat.

Namun, implementasi konsep pembelajaran yang berorientasi pada kolaborasi dan kreativitas ini menuai berbagai problematika. Diwawancarai pada Senin (17/4), Nadzra Ervina Lubis selaku mahasiswi Agroteknologi mengeluhkan kesulitannya dalam menggarap dua proyek yang tergabung di kelas Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Nadzra mengaku, menjalankan proyek ini tidak mudah karena adanya keterbatasan ruang dan waktu, serta tuntutan untuk cepat beradaptasi dengan teman yang berasal dari Prodi berbeda. Selain itu, Nadzra juga turut mengeluh akan minimnya informasi dan pemahaman yang diberikan dosen terkait mekanisme pembelajaran tersebut.

“Pada gak jelas gitu kasih infonya, padahal itu salah satu syarat penilaian di matkul MKWK-nya. Kayak pas di kelas Pendidikan Kewarganegaraan, kan awal mulanya kami disuruh buat film dokumenter. Eh, setelah UTS dosennya bilang ‘pihak LIDA buat inovasi baru, ternyata dibagi lagi proyeknya ke beberapa kategori’. Kesel dong denger info begitu, mana deadline-nya mepet banget, terus tugasnya jadi nambah,” ungkap Nadzra.

Meskipun demikian, Nadzra menilai kegiatan pembelajaran berbasis proyek ini dapat menyatukan berbagai mahasiswa dari latar belakang keilmuan yang berbeda dan membuat suasana belajar yang baru sekaligus mengasah daya berpikir kreatif.

Senada dengan Nadzra, Anna Fauziah Pane yang merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi ini juga merasa terbebani dengan proyek yang dijalani. Walaupun telah disepakati bahwa proyek akan dikonversi menjadi nilai UTS dan UAS, tetapi nyatanya ia tetap harus menjalankan UTS seperti biasa.

“Kalau pendapatku pribadi, dengan mengonversi UTS dan UAS ke proyek itu pilihan yang tepat karena mahasiswa bisa fokus ke proyeknya. Gak double gitu bebannya. Tapi nyatanya masih ada UTS. Kesannya kayak gak sejalan gitu sistem LIDA sama yang terjadi di real life. Semoga aja kalau tahun ajaran selanjutnya ada MKWK lagi, tolong banget ini sistemnya yang matang, jangan maksa. Kasian mahasiswanya,” tutur Anna.

Anna menambahkan, beberapa mahasisiwa yang berdomisili di luar Medan turut menjadi faktor terhambatnya perjalanan proyek. Anna pun turut menyematkan saran agar sistem pembelajaran ini lebih baik ke depannya sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

“Kita tau tujuan dari proyek MKWK ini bagus, tapi tolong dimatangkan lagi sistemnya untuk tahun yang akan datang. Buat para dosen harusnya benar-benar paham apa maksud, tujuan, dan gimana sistem dari proyek ini.  Kalau ini bisa tercapai, InsyaAllah tahun depan MKWK bisa lebih baik dan lebih bermanfaat untuk mahasiswa. Gak cuma nambah beban tugas, tapi bisa jadi tempat berproses yang baik untuk mahasiswa,” ujar Anna.

Salah satu tenaga pengajar MKWK, A turut memberikan pandangannya. Menurutnya, konsep pembelajaran berbasis proyek ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa. Hal ini karena, selain mahasiswa mendapatkan pengetahuan baru dari materi yang diberikan, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman baru melalui pengerjaan base project yang sudah dirancang.

Selain itu, hal positif lainnya menurut A adalah mahasiswa yang masuk ke dalam kelas mata kuliah wajib yang digabung ke dalam beberapa fakultas akan mendapatkan teman baru. Mahasiswa dapat membangun jejaring antar jurusan, fakultas, bahkan meluas ke antar universitas. Sehingga menurutnya akan sangat disayangkan apabila mahasiswa tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan perkuliahan yang menganut program base project.

A sendiri mengaku tidak tahu terkait minimnya informasi yang didapat mahasiswa mengenai mekanisme implementasi pembelajaran berbasis proyek, “Mengenai itu, boleh ditanyakan langsung ke pihak LIDA selaku pengelola, mengapa bisa demikian. Karena kami hanya menjalankan.”

A mengungkapkan tidak ada kendala dalam sistem pengonversian nilai. A juga menekankan bahwa implementasi dari mata kuliah MKWK merupakan ruh dan kewajiban bagi setiap mahasiswa sebagai warga negara Indonesia.

“Ekspektasi saya dari hasil proyek yang dikerjakaan oleh mahasiswa tentu tidak hanya melihat dari kepatuhan, apakah proyek itu dikerjakan atau tidak. Karena hal ini kan untuk diri adik-adik sendiri. Jadi tidak hanya nilai yang diharapkan, melainkan lebih kepada munculnya kesadaran untuk menjadi warga negara yang lebih baik lagi, agar mau berjuang untuk bangsa dan negaranya,” tutur A.

Di akhir wawancara, A berharap dapat timbul kesadaran dari diri masing-masing bahwa pendidikan tidak hanya mencerdaskan dan mendapatkan kehidupan yang layak, tetapi juga dapat menciptakan insan yang berpikir secara arif dan bijaksana.

“Untuk itu, jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Ayo kita manfaatkan agar kita bisa mewujudkan harapan dan doa kedua orang tua untuk menjadi insan yang berguna bagi keluarga, lingkungan, agama, bangsa, dan negara,” pungkas A.

Redaktur: Azka Zere Erlthor


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Jelang JLPT, Bagaimana Persiapan Mahasiswa Sastra Jepang USU?

redaksi

Campus Integrity Roadshow Resmi Terlaksana sebagai Upaya Menanamkan Kesadaran Antikorupsi

redaksi

Puncak Dies Natalis KMK St. Albertus Magnus ke-32, Harapkan Mahasiswa Intelek Tidak Melupakan Nilai Religius

redaksi