Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Buku

Melirik “Mata yang Enak Dipandang”

Foto: id.carousell.com

Oleh : Theresa Hana Karen Sidebang

“Mata orang yang suka memberi, kata teman-teman yang melek, enak dipandang. Ya, kukira betul; mata orang yang suka memberi memang enak dipandang”

Itulah salah satu kutipan yang diambil dari salah satu cerpen berjudul “Mata yang Enak Dipandang” yang juga menjadi judul novel karya Ahmad Tohari. Cerpen tersebut menceritakan seorang pengemis buta yang mempercayai orang yang suka memberi memiliki mata yang enak dipandang. Orang-orang yang berada di kereta kelas bawah. Cerpen ini membangkitkan simpati dan menjadi sindiran kepada para pembaca.

Buku Mata yang Enak Dipandang merupakan kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari yang tersebar di media cetak. Ahmad Tohari dikenal sebagai penulis realis, beliau lihai menarasikan realitas kehidupan. Cerpen-cerpen dalam buku ini adalah fenomena hidup yang disampaikan dengan cara yang sederhana, lembut dan tidak perlu menguras banyak imajinasi.

Kumpulan cerpen ini banyak menceritakan tentang orang “susah”. Kesulitan dalam kehidupan orang-orang yang dekat dengan kita. Salah satunya cerpen berjudul “Daruan”.

“Namun, Daruan masih bisa melakukan sesuatu; membungkus enam belas buku yang sudah dibeli dengan seluruh uangnya. Ketika itu Daruan sadar, yang sedang dibungkusnya bukan sekadar buku melainkan dirinya sendiri. Pembungkusnya hanya sekadar koran, bukan kain kafan”

Sepenggal dari cerpen “Daruan” ini menggabarkan tokoh Daruan yang pasrah akan keadaannya. Ia adalah novelis yang tidak bisa membayar penerbit besar untuk memperkenalkan karyanya. Buku karyanya berserak di pedagang asongan dengan harga murah. Merasa dongkol, ia pun membeli bukunya sendiri. Cerpen ini menyadarkan kita jika langkah orang “susah” memiliki lebih banyak tantangan terutama perkara bayar-membayar jasa agar bisa “dikenal”.

Ada juga Cerpen yang sangat menarik dan sarkas berjudul “Pemandangan Perut”. Cerpen ini bercerita tentang Sadurpi yang mampu melihat layer tancep di setiap perut orang. Suatu waktu, kawannya bertanya apa yang Sardupi lihat dalam perutnya. Jawaban Sadurpi menohok hati kawannya.

“Pada layer tancep perutmu, aku melihat banyak sekali piring kaleng kosong berserakan di mana-mana. Piring-piringmukah itu?”

Jawaban itu tidak menggambarkan kondisinya melainkan kondisi tetangga kawannya. Piring kaleng kosong yang menandakan kelaparan dan ketidakpedulian sang kawan akan hal memprihatinkan tersebut.

Cerpen lain pun tidak kalah menarik, tentang anak jalanan, hubungan antar tetangga, orang yang sulit menyebrang, penipu dan ditutup romansa anak orang kaya. Lika-liku kehidupan yang belum dipahami baik oleh orang awam. Tentang konflik “kecil” yang terjadi dalam kehidupan orang-orang kelas bawah.

Ahmad Tohari sangat apik menyampaikan pesan tentang norma, isu kemanusiaan, kemiskinan. Dengan gaya realis, beliau mampu membangkitkan simpati dan kesadaran kita akan realitas hidup. Tentang bagaimana cara kita memandang kehidupan orang kelas bawah? Sudahkan kita memiliki mata yang enak dipandang?

Redaktur: Yulia Putri Hadi

Related posts

Sejenak Hening: Aku Tenang, Aku Menang

redaksi

Memorizing Like An Elephant, Sebuah Karya untuk Melatih Daya Ingat

redaksi

Madilog, Seni Berfikir dan Mengambil Keputusan

redaksi