SUARA USU
Kabar Kampus

Menilik Kebangkitan PEMA FEB USU Pada Momentum Dies Natalis Ke-60!

Oleh: Divina Marsya Azzahra

Suara USU, MEDAN. Seperti yang sama-sama kita ketahui, vakumnya Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (PEMA FEB) sudah berlangsung dua tahun belakngan. Salah satu alasan paling kuat dan mendasar adalah terhambatnya regenerasi lewa Pemilihan Raya (PEMIRA) FEB USU yang tertunda selama pagebluk berlangsung dan tak kian usai.

Pada kesempatan yang lalu, PEMA FEB USU sudah merencanakan kegiatan PEMIRA yang diadakan secara online, namun keputusan tersebut banyak ditentang oleh dengan alasan hanya menambah “kerjaan” dan masalah.  Akan kah ada kemungkinan bagi PEMA FEB untuk aktif kembali pada momentum Dies Natalis pada 25 November nanti?

Wakil gubernur PEMA FEB periode 2018/2019, Theo Andreas Simamora mengatakan bahwa akan adanya kemungkinan bangkit kembali PEMA FEB karena sudah berdiskusi dengan pihak jajaran dekanat FEB USU terkait PEMIRA di awal tahun 2022.

“Kalau untuk keaktifan kembali, kita udah komitmen ya. Saya juga udah beberapa kali diskusi dengan dekanat, mereka juga benar-benar support untuk pelaksanaan PEMIRA agar PEMA FEB USU terbentuk kembali. Jadi kemungkinan besar untuk pelaksanaan PEMIRA akan ada di tahun depan, mudah-mudahan persiapannya lancar dan persiapannya dimulai pada awal tahun depan,” ungkap Theo saat diwawancarai, pada Rabu (24/11)

Ketua Umum GMKI FEB USU periode 2021/ 2022, Riris Simbolon mengatakan bahwa kekosongan kepemimpinan di FEB USU membuat terhambatnya beberapa kegiatan kemahasiswaan di fakultasnya. Namun, ia tak menampik kebangkitan PEMA FEB USU pasti ada.

“Kemungkinan pasti ada. Karena melihat situasi saat ini yaitu kekosongan kekuasaan dan terhambatnya kegiatan-kegiatan mahasiswa yang seharusnya menjadi wadah untuk berdiskusi serta pengembangan minat dan bakat mahasiswa FEB USU, ”jelasnya.

Senada dengan Riris, Ary Tri Adami Ketua Umum HMI Komisariat FE USU  berpendapat bahwa banyaknya imbas dari ketidakaktifan PEMA FEB USU yang antara lain adalah suhu pergerakan pemerintahan kampus yang melemah. Ary juga menilai PEMA FEB USU yang sebelumnya tidak bertanggung jawab atas regenerasi yang seharusnya dilakukan. Ary juga menilai, bahwa hilangnya PEMA FEB USU di tengah-tengah mahasiswa mengakibatkan suhu kepentingan mahasiswa tak lagi terakomodir.

“PEMA FEB USU sebelumnya tidak bertanggung jawab atas regenerasi yang seharusnya dilakukan, dengan dalih covid-19 yang menjadi pemakluman atas dasar kewajiban dari yang seharusnya dilakukan. Apa imbasnya? Suhu pergerakan politik kampus melemah, trust issue menguat, dan kepentingan mahasiswa sulit ter akomodir,” ucap Ary saat diwawancarai pada Senin (22/11).

Pastinya, ada banyak harapan-harapan dari mahasiswa FEB USU terkait dengan keaktifan kembali PEMA FEB USU. Terlebih gegap gempitanya Dies Natalis FEB USU Ke-60, membuat atmosfir dan semangat kemahasiswaan di FEB USU meningkat. Riris mengharapkan bangkitnya PEMA FEB USU dapat menjadi wadah dan pengembangan minat serta bakat mahasiswa FEB USU.

“Harapannya, PEMA FEB USU akan aktif kembali dan menjalankan fungsinya sebagai Pemerintahan Mahasiswa Fakultas. Selain itu, PEMA FEB USU yang akan datang akan mampu menciptakan wadah perdiskusian ekonomi ataupun kegiatan-kegiatan mahasiswa yang seharusnya menjadi wadah untuk berdiskusi serta pengembangan minat dan bakat mahasiswa itu sendiri,” paparnya.

Sementara itu, di satu sisi lain Ary berharap PEMA FEB USU dapat kembali hadir dan menjadi pioneer untuk kepentingan mahasiswa khususnya FEB USU. Sudah seharusnya PEMA bertransformasi dan memberikan dampak bagi civitas akademika FEB USU.

“Harapan saya selaku ketua umum HMI Komisariat FE USU, PEMA akan selalu menjadi pioneer untuk kepentingan mahasiswa. Jangan sampai kooperatif dengan kejanggalan permasalahan yang ada di FEB USU. Baik dari grassroot sampai ke puncak. PEMA sudah seharusnya bertransformasi untuk memberi dampak bagi civitas akademika FEB USU,” ungkapnya.

Terkait dengan hal yang harus dijaga dan diimprove dari PEMA FEB USU, Ary Tri Adami dan Riris Simbolon berpendapat bahwa komitmen dan komunikasi setiap pengurus PEMA harus dijaga, agar tetap melaksanakan tugasnya dan tetap bertanggung jawab.

”Hal yang harus dijaga komunikasi antara PEMA, mahasiswa dan dekanat. Karena 3 stakeholders ini yang akan menjadi safe zone-nya. Jika 3 hal ini selaras dan tidak belok kanan kiri maka mudahlah untuk mencapai tujuan PEMA untuk kedepannya. Melalui helicopter view kami melihat, pada era sekarang organisasi itu harus adaptif, inovatif dan inklusif. Kalau tidak, maka siap siap ia binasa,” lanjut Ary.

“Yang harus dijaga adalah komitmen setiap pengurus PEMA kedepan agar tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya serta memperhatikan fungsi, tugas dan wewenang PEMA FEB USU. Lalu, bagaimana PEMA FEB USU kedepannya mampu merangkul aspirasi mahasiswa ataupun kegelisahan mahasiswa FEB USU itu sendiri serta menghasilkan kegiatan yang berkualitas yang menunjang kebutuhan mahasiswa FEB USU. Dan juga, tetap adanya regenerasi di setiap kepengurusan PEMA FEB USU,” tambah Riris.

Di akhir wawancara, Theo  berharap kedepannya PEMA FEB USU tetap mempertahankan program-program kerja yang baik tetapi dikemas dengan kondisi yang terjadi sekarang. Ia juga mengharapkan antusias yang tinggi dari mahasiswa FEB terhadap PEMIRA PEMA FEB USU yang akan dilaksanakan tahun depan, semoga mahasiswa FEB USU bisa memilih gubernurnya nanti untuk mempimpin Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Ada Apa dengan Akreditasi S1 Akuntansi?

redaksi

Adakan Aksi Donor Darah, KMB-USU: Drop of Blood, Million of Hopes

redaksi

Pemberian Reward Sebagai Sarana Peningkatan Minat Belajar Anak

redaksi