SUARA USU
editorial

Nyatakah Diskriminasi Berdasarkan Kecantikan Fisik?

Gambar: dictio.id

Penulis: Yohanna Febrianti

Bagaimanakah standar kecantikan fisik menurut kalian? Apakah yang berkulit putih? Apakah seseorang dengan kulit eksotis? Atau apakah cantik itu mempunyai wajah yang mulus dan badan yang langsing? Bukan lagi rahasia umum bahwa standar kecantikan terutama di Indonesia begitu sangat nyata. Bahkan standar kecantikan ini juga menjadi masalah yang serius.

Pada saat ini diskriminasi tidak hanya berada pada ruang lingkup gender ataupun sosial, namun “kecantikan fisik” sudah masuk di dalamnya. Mari kita ambil kejadian nyata yang sering terjadi terutama dalam kasus melamar pekerjaan.

Dilansar dari laman instagram @hasanaska_ri yang kurang lebih berisi begini “sebuah penelitian eksperimental mengirimkan 11.000 CV ke berbagai lowongan pekerjaan dengan menempelkan foto orang yang berbeda-beda dengan berbagai level kemenarikan fisik atau disebut dengan good-looking. Dan hasil yang didapatkan, CV yang menggunakan foto laki-laki dan perempuan dengan level good-looking yang tinggi jauh lebih banyak menerima panggilan untuk interview.”

Dari kasus tersebut, bukankah sudah menjadi bukti yang sangat nyata tentang adanya diskriminasi berdasarkan kecantikan fisik? Diskriminasi ini tidak hanya terjadi di dunia pekerjaan saja, di lingkungan sehari-hari kita juga dapat melihat jelas bagaimana orang-orang dengan good-looking yang tinggi lebih dihargai. Tak jarang pendapat mereka lebih sering didengar.

Dalam media-media juga sering ditemui berita seperti “Wanita cantik lulusan S1 memilih berjualan sarapan pagi”, padahal jika dipikir lebih dalam lagi, apa hal spesial yang didapat dari berita tersebut? Bukankah akan lebih baik dan bermanfaat jika berita yang diangkat seperti “Seorang wanita memilih berjualan untuk melanjutkan hidupnya”. Berita seperti itu lebih bermanfaat untuk mengajarkan kita lebih bersyukur.

Sebagian orang lebih mengutamakan kecantikan fisik dibanding dengan attitude yang dia punya, sering sekali ketika seseorang dengan good-looking yang tinggi membuat suatu kesalahan atau berbicara dengan kasar mereka akan mendapat respon “untung cantik” atau “untung ganteng”. Miris sekali mendengarnya. Padahal sebenarnya cantik atau ganteng itu relatif, kecantikan fisik tidak seharusnya dijadikan standar untuk mendapatkan sesuatu.

Berbicara good-looking sebenarnya bukan hanya tentang fisik, Dress wellmerupakan salah satu bagian dari good-looking yang seharusnya lebih diperhatikan ketika melamar pekerjaan ketimbang memperhatikan foto yang tertempel di CV. Melihat skill seharusnya menjadi hal utama ketimbang melihat seberapa rupawan wajah orang tersebut. Attitude dan How a person speaksseharusnya lebih menjadi titik fokus, bagaimana mereka mengucapkan “maaf, terima kasih, dan tolong”.

Good-looking tidaklah melulu soal fisik. Jangan terlalu mementingkan kecantikan fisik saja, sampai lupa bahwa mengasah skill dan menjaga attitude merupakan hal yang lebih penting.

Jadi, kamu cantik dengan caramu sendiri, karena rupa bisa menua tapi tidak dengan hatimu!

Penyunting: Yulia Putri Hadi

Related posts

Banyaknya Stereotype Suku di Indonesia, Apa Bisa Lepas?

redaksi

Maraknya Buku Bajakan, Salah Siapa?

redaksi

Dari BTS Meal hingga Euro, Baiknya Loyalitas Kpopers Disalurkan untuk Kebermanfaatan

redaksi