Home Tulisan Pancasila dan Fenomena Streamer Gaming di Kalangan Mahasiswa Medan
Tulisan

Pancasila dan Fenomena Streamer Gaming di Kalangan Mahasiswa Medan

Share
Dokumentasi: Kelompok 10

Oleh: Kelompok 10

Suara USU, Medan. Di era serba digital, dunia maya telah menjadi ruang kedua bagi banyak mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar, berkomunikasi, atau mengekspresikan diri secara online, tetapi juga menemukan bentuk hiburan baru yang digemari yaitu game online. Permainan yang dulu hanya dianggap sebagai pelarian dari kejenuhan kini berkembang menjadi wadah kreativitas, kerja sama, bahkan sumber penghasilan bagi sebagian pemain yang menekuninya lewat live streaming atau kompetisi e-sport.

Fenomena ini begitu terasa di Medan, khususnya di kalangan mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang aktif bermain game populer seperti Mobile Legends, PUBG, dan Growtopia. Namun, di balik keseruan permainan itu tersimpan persoalan moral yang menarik untuk dikaji: Apakah para pemain tetap mengamalkan nilai-nilai Pancasila di dunia digital yang kompetitif? Apakah mereka mampu menyeimbangkan antara kesenangan bermain dan tanggung jawab sosial sebagai generasi terdidik?

Dari hasil kuesioner dan wawancara, muncul berbagai cerita menarik tentang kebiasaan dan karakter gamer muda di Medan.

  • Lama dan Waktu Bermain

Sebagian besar pemain telah menjadikan game sebagai bagian dari rutinitas hidup mereka selama lebih dari lima tahun. Rata-rata waktu bermain mencapai enam jam per hari, dan sebagian besar dilakukan di malam hari, saat aktivitas belajar telah usai. Bagi mereka, game bukan sekadar hiburan, tapi juga ruang untuk melepas penat dan berinteraksi dengan teman.

  • Perilaku Toxic dan Perundungan

Meski dunia game dikenal keras, banyak gamer yang menunjukkan kedewasaan dalam bersikap. Mereka mengakui sering menemui komentar kasar atau ejekan, tetapi sebagian besar memilih untuk menanggapinya dengan tenang. Alih-alih membalas, mereka memilih untuk diam, melapor, atau tetap fokus bermain. Ini menunjukkan bahwa etika digital mulai tumbuh di kalangan pemain game online Indonesia.

  • Kerja Sama dan Musyawarah dalam Tim

Menariknya, lebih dari separuh responden menganggap komunikasi dan kerja sama sebagai kunci utama kemenangan. Banyak yang terbiasa menyusun strategi bersama sebelum bertanding, membagi peran secara adil, dan mendengarkan saran dari anggota tim lain. Dari sinilah terlihat bahwa nilai musyawarah dan gotong royong yang menjadi bagian dari Pancasila, juga hidup dalam dunia game.

  • Sikap terhadap Kekalahan dan Kecurangan

Kekalahan bukan lagi hal memalukan bagi sebagian besar pemain. Mereka menganggap kekalahan sebagai pelajaran untuk memperbaiki strategi. Hampir semua responden menolak tindakan curang seperti penggunaan cheat, karena dinilai merusak keadilan dan semangat sportifitas.

  • Tanggapan terhadap Pemain Egois dan Lawan yang Comeback

Tidak dapat dipungkiri, ada kalanya pemain merasa kesal ketika rekan setim bertindak egois atau tidak mau bekerja sama. Namun, sebagian besar lebih memilih bersikap profesional, tetap fokus pada tujuan tim, dan tidak larut dalam emosi. Bahkan ketika lawan berhasil membalikkan keadaan (comeback), mereka tetap berusaha menerima kekalahan dengan tenang dan menjadikannya motivasi untuk bermain lebih baik lagi.

Teguh Liandi, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer USU, menyampaikan bahwa perilaku toxic di dalam game memang masih sering dijumpai, terutama pada mode kompetitif. Namun, menurutnya, situasi seperti ini dapat diminimalkan jika antar pemain mampu menjaga komunikasi yang sehat dan mengutamakan kerja sama tim. Ia menekankan bahwa strategi yang baik tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis, tetapi juga pada cara berinteraksi dengan sesama anggota tim.

Naufal, mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Sumatera Utara, menilai bahwa rasa saling menghargai antar pemain merupakan kunci utama untuk menciptakan suasana bermain yang nyaman dan kondusif. Bagi Naufal, menghormati rekan setim maupun lawan bukan hanya bentuk etika, tetapi juga bagian dari nilai kemanusiaan yang perlu dijaga dalam setiap interaksi digital.

Putri Nisa, S.Pd, seorang pendidik di MTsS TI Koto Tuo, menunjukkan perspektif yang lebih luas. Beliau menilai bahwa game online memiliki dampak ganda positif karena dapat memperluas jaringan sosial antar pemain, namun juga berpotensi mengganggu fokus belajar dan disiplin waktu apabila tidak diimbangi dengan pengendalian diri.

Adapun fenomena gamer dalam perspektif pancasila tercakup dalam sila kedua dan sila keempat pancasila. Banyak gamer yang tanpa sadar mempraktikkan nilai kemanusiaan dalam setiap interaksi. Mereka saling menegur dengan sopan, membantu rekan setim yang kesulitan, dan berusaha menenangkan pemain lain yang emosional. Sila keempat (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan) dibuktikan saat semua dijalankan secara demokratis dan saling menghargai pendapat. Proses inilah yang mencerminkan semangat musyawarah dalam kehidupan digital—sebuah bukti bahwa bahkan di tengah kompetisi, pemain tetap mengutamakan kerja sama dan kebijaksanaan bersama.

Walaupun banyak sisi positif yang bisa dipetik dari bermain game, seperti melatih kerja sama, strategi, dan kreativitas, dunia digital tetap menyimpan tantangan besar. Masih banyak pemain yang terjebak dalam sikap egois, ucapan kasar, atau tindakan curang demi meraih kemenangan instan. Dunia maya memang memberi ruang bebas bagi siapa pun, tapi tanpa kendali moral, kebebasan itu bisa menjelma menjadi perilaku yang tidak manusiawi dan jauh dari nilai Pancasila.

Oleh sebab itu, penting bagi generasi muda untuk memiliki karakter digital yang kuat. Sikap sopan, tanggung jawab, dan kesadaran sosial perlu ditanamkan sejak dini, bukan hanya di dunia nyata tetapi juga di ruang virtual. Ketika gamer mampu bermain dengan etika dan menghormati sesama, dunia digital bisa menjadi tempat yang lebih sehat, menyenangkan, dan mendidik.

Dunia game bagi anak muda Medan tidak hanya tentang siapa yang paling jago atau siapa yang menang, tetapi juga tentang bagaimana mereka belajar menjadi pribadi yang lebih bijak. Dunia digital memang menawarkan kesenangan dan kebersamaan, namun di balik itu tersimpan tantangan moral yang harus dihadapi, bagaimana tetap menghormati sesama, menahan emosi, dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan terus menanamkan nilai-nilai pancasila di tengah pesatnya dunia digital, mahasiswa bisa menjadi generasi yang cerdas secara moral, beretika dalam bersaing, serta mampu membawa semangat kebangsaan ke dunia maya yang tanpa batas.

Artikel ini merupakan tugas publikasi mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan Dosen Pengampu Onan Marakali Siregar, S.Sos, M.Si

Redaktur: Vimelia Hutapea

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.