SUARA USU
Featured

Pengaruh Perkembangan Berpakaian dari Budaya Asing terhadap Lunturnya Rasa Bangga Berbudaya Indonesia

Oleh: Yose Harahanta Siregar/Naomi Nehemia/Refnaldi Frianggi Haloho/Averina Felita/Lilik Nasution/Salsabila Najla/Putri Jane/Muhammad Kevin

Suara USU, Medan. Banyak dari masyarakat kita terkhususnya anak muda yang memilih mengikuti kebiasaan berbusana asing, alasannya ada berbagai macam mulai dari syndrome FOMO (Fear of Missing Out) ketakutan akan di cap sebagai orang yang ketinggalan zaman. Alasan – alasan internal seperti ingin mencari jati diri dengan mengimitasi orang atau budaya yang dianggap keren atau menarik.

Sebagai contoh seseorang yang menyukai budaya K-pop akan mengikuti busana yang sedang trend digunakan oleh penyanyi atau artis korea karena ingin mengimitasi idola mereka termasuk dalam fashion yang dikenakan. Hal ini juga di dukung oleh kemudahan akses informasi di dunia maya melalui internet yang tentunya merupakan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat siapa saja dapat menyaksikan perkembangan fashion dari budaya manapun yang mereka sukai sehingga perlahan masyarakat akan meninggalkan budaya dan busana asli daerah masing-masing.

Selain itu, ada juga masyarakat yang mengikuti trend berbusana asing karena takut di kecam oleh masyarakat sebagai orang yang kaku, tidak modis, dan ketinggalan zaman. Sehingga mau tidak mau mereka akan memilih mengikuti tren fashion yang sedang ramai di masyarakat dan mengadopsinya sebagai gaya atau style mereka sehari-hari.

Kebanyakan dari mereka menganggap dengan mengadopsi gaya berbusana yang sedang trend akan mendapat label positif dari lingkungan sekita. Mereka seperti di cap sebagai orang yang gaul, stylist, eksis, dan juga orang yang berada sehingga satu persatu dari masyarakat berlomba – lomba untuk mengikuti trend fashion terbaru yang sedang beredar demi mencapai label positif tersebut yang lama kelamaan menyebabkan kebudayaan asli nusantara semakin terlupakan dan terancam punah jika terus berlanjut.

Hal yang dapat di lakukan dalam mengatasi permasalahan diatas adalah dengan mulai menanamkan kembali rasa kecintaan akan budaya dan busana asli daerah. Langkah pertama dan cukup efektif adalah dengan memodifikasi busana yang ada agak tetap mengandung nilai adat sekaligus tidak ketinggalan zaman.

Sebagai contoh, banyak dari masyarakat kita yang mencoba memodifikasi batik menjadi gaun dengan bentuk yang menyesuaikan dengan selera masyarakat. Hal ini tentu menarik perhatian masyarakat terutama anak muda untuk menggunakan batik tersebut karena desainnya yang menarik dan tidak membosankan. Inovasi – inovasi seperti inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mencegah punahnya busana asli nusantara dan dapat bersaing dengan trend fashion luar negeri.

Dampak negatif dari masyarakat yang berpakaian budaya asing:
– Hilangnya budaya pakaian tradisional Indonesia
– Hilangnya rasa cinta tanah air
– Masyarakat yang lebih menyukai pakaian dari budaya asing
– Penurunan penjualan produk buatan lokal
– Hilangnya rasa bangga terhadap produk buatan negeri
– Hilangnya rasa kepercayaan diri menggunakan pakaian tradisional

 

Redaktur: Anggie Syahdina Fitri

Related posts

Roni Anggara, Mahasiswa USU Selesaikan Pertukaran Mahasiswa di 7 Kampus Indonesia

redaksi

Cermati dan Kenali Bisnis MLM!

redaksi

Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Melakukan Case Method di Panti Asuhan Al-Marhamah yang Sedang Berjuang untuk Memiliki Pekerja Sosial Sesuai dengan Ketentuan Permensos Nomor 1 Tahun 2020 Bagian 2 Pasal 6 Ayat G

redaksi