SUARA USU
editorial

Perguruan Tinggi Bukan Hanya Pencetak Buruh

sumber: http://www.miscw.com

Oleh: Yessica Irene

Suara USU, Medan. Peringatan Hari Buruh yang jatuh pada 1 Mei dan peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei membuat saya tertarik untuk membahas kedua aspek tersebut dengan  mengambil realita yang terjadi pada mahasiswa di Perguruan Tinggi. Tentu saja mahasiswa yang nantinya akan lulus dengan gelar cumlaudenya akan mengejar berbagai pekerjaan yang menjanjikan bagi masa tuanya, bukan?

Bekerja merupakan tujuan utama yang hendak dicapai para fresh graduate yang tak sabar melangkahkan kakinya menuju dunia kerja. Mereka yang sudah mengidam-idamkan bekerja dengan gaji besar dan working culture yang menyenangkan seringkali tertipu dengan nyamannya dunia pekerjaan itu. Mereka lupa bahwa masih banyak pekerjaan yang butuh lebih banyak tenaga kerja untuk bisa menghasilkan profit yang lumayan besar bagi pendapatan negara.

Revolusi industri 4.0 memang memberikan tekanan bagi manusia saat ini untuk berlomba-lomba menguasai teknologi dengan segala hal yang serba cepat serta efisien. Kini, seiring dengan berkembangnya zaman, revolusi industri sudah memasuki berbagai bidang seperti pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia.

Dunia perindustrian memang menjanjikan banyak hal yang menyenangkan, dunia ini memproyeksikan bahwa semua hal bisa dilakukan dengan mudah serta hanya sekedar menekan tombol agar mesin atau robot dapat bekerja. Wajar saja para fresh graduate saat ini mendominasi di dalam dunia industri, mereka lebih menyukai duduk santai di bawah air conditioner (AC) sambil mengotak-atik komputer yang berada di depannya.

Berdasarkan data dari Satu Data Kemnaker terhitung pada bulan Agustus tahun 2020 ada sebanyak 138.221.938 juta orang angkatan kerja. Kemudian terdapat 13,35 juta orang angkatan kerja dengan latar belakang pendidikan Universitas. Banyaknya jumlah angkatan kerja ini menjadi tantangan bagi Perguruan Tinggi untuk mempersiapkan lapangan pekerjaan apa yang harus dipilih dan cocok bagi para mahasiswanya.

Perguruan Tinggi adalah tempat untuk mencetak generasi muda, khususnya mahasiswa yang siap kerja harus memperhatikan perkembangan revolusi industri 4.0 yang terjadi saat ini. Mereka yang menempuh ilmu di sebuah Perguruan Tinggi harus dibekali kesiapan kerja, bukan saja di dunia industri, tetapi juga di dunia wirausaha dan keilmuan.

Dalam UU No. 12 Tahun 2012 pasal 5 disebutkan 4 (empat) tujuan pendidikan tinggi, yaitu:

  1. Berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.
  2. Dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa.
  3. Dihasilkannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.
  4. Terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dengan diaturnya tujuan Perguruan Tinggi di dalam sebuah peraturan perundang-undangan menunjukkan bahwa pemerintah memberi perhatian penting bagi pendidikan di Perguruan Tinggi. Tujuan Perguruan Tinggi yaitu dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa. Apakah tujuan tersebut sudah tercapai?

Melihat kenyataan yang ada di lapangan, banyak fresh graduate saat ini yang lebih memilih menjadi seorang buruh dan bekerja pada sebuah perusahaan. Hal ini membuat lapangan pekerjaan seperti wirausahawan serta ilmuwan menjadi sepi peminat.

Kebanyakan dari mereka yang memilih menjadi buruh mengatakan bahwa menjadi seorang pekerja tidak membutuhkan effort yang terlalu sulit dibanding harus memulai sebuah usaha. Mereka tidak perlu mempersiapkan dana dan menentukan target konsumennya ketika bekerja sebagai buruh. Yang penting mereka bekerja dibawah pimpinan seseorang dan mengerti job desk dari pekerjaan tersebut.

Menjadi seorang wirausahawan memang membutuhkan mental yang kuat, perlu melewati jatuh bangunnya usaha yang kita bangun. Mulai dari kekurangan modal, tidak tercapainya target konsumen hingga persaingan produk di dunia usaha. Hal ini yang membuat para milenial menjadi kalah mental untuk menjadi seorang wirausahawan.

Sama halnya dengan menjadi seorang ilmuwan, kemampuan intelektual yang tinggi sangat diperlukan di bidang pekerjaan ini. Mereka harus merelakan masa mudanya hanya untuk belajar dan meneliti, tanpa digaji dalam usahanya mendapatkan gelar profesor sehingga menjadi kredibel dalam bidangnya. Untuk itu, orang-orang yang mau menjadi seorang ilmuwan hanyalah orang-orang yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

Kemudian, lingkungan juga berpengaruh pada millennial saat ini yang ingin menjadi pekerja atau pegawai. Dengan melihat teman-teman di sekitarnya sudah bekerja di perusahaan swasta dengan gaji yang besar membuat mereka tertarik dan mencoba untuk mendaftar di perusahaan yang sama. Apalagi, ditambah dengan omongan orangtua khususnya ibu yang selalu membandingkan pekerjaan orang lain yang lebih menjanjikan dibandingkan pekerjaan kita.

Mereka yang lebih memilih menjadi pegawai adalah orang-orang yang sulit untuk keluar dari zona nyaman. Mereka lebih memilih bekerja dengan nyaman dan memastikan bahwa mendapatkan jaminan hari tua.

Sebenarnya, peran Perguruan Tinggi sangat diperlukan untuk membentuk pola pikir mahasiswa Mahasiswa di era revolusi industri 4.0 ini memiliki banyak potensi untuk mengelola setiap bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di Indonesia. Banyak cara kreatif yang dimiliki oleh para milenial untuk mencoba berbagai lapangan pekerjaan.

Selanjutnya, Perguruan Tinggi sebagai rumah untuk belajar bagi mahasiswa memberikan pengetahuan yang sejalan dengan tuntutan dunia pekerjaan. Bahwa menjadi pegawai atau pekerja tidak akan selalu menjamin masa depan mu akan sukses!

Redaktur: Yulia Putri Hadi

Related posts

Mempertanyakan Niat Baik Rektorat Ringankan Mahasiswa Lewat UKT 9

redaksi

Memiskinkan Buruh dengan Dalih Pandemi

redaksi

Renungan Momentum Dies Natalis 69 Tahun USU

redaksi