Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Buku

Pernah Tenggelam, Diantara Persimpangan dan Perubahan Jalan Kehidupan

Oleh: Agus Nurbillah

Harta kita, hanya untuk akhirat. Kuota kita, hanya untuk kebaikan. Kebanggaan kita, hanya kepada Islam. Waktu kita, hanya untuk beribadah. Kerja keras kita, hanya untuk Allah. Tegasnya kita, saat membela agama. Hafalan kita, untuk Al-Quran dan As-Sunnah. Kreatifitas dan Skill kita, hanya untuk dakwah. Persatuan kita, dalam ukhuwah Islamiyah. Ganasnya kita, hanya pada musuh Allah. Masalah kita, hanya masalah ummat. Galaunya kita, hanya jika bermaksiat. Bahagianya kita, hanya jika bisa taat.” 

 Fuadh Naim – Pernah Tenggelam

Fuadh Naim, penulis daripada buku #Pernah Tenggelam ini merupakan mantan penggila budaya Korea yang kini hijrah. Kisah hijrahnya dituliskan dalam buku ini. Selain sebagai seorang penulis dan content creator, beliau juga aktif dalam dakwah melalui media sosial dengan program #YukNgaji dan #Dehallyusinasi, serta menyuarakan gerakan #HallyuHijrah.

Bagi para pecinta Korea, pasti akrab dengan istilah Hallyu, atau dalam bahasa Inggrisnya “Korean Wave” adalah sebuah gelombang besar yang datang dari negeri para Idol Korea Selatan. Berbicara soal Hallyu sebenarnya bukan hanya berbicara tentang K-Pop atau K-Drama, Korean Wave sebenarnya lebih dari itu, seperti Korean Food, Korean Style, Korean Skincare, Korean Culture, dan banyak lagi hal-hal yang berasal dari Korea.

Hallyu merupakan hasil dari sejarah yang panjang. Pada tahun 1945 setelah Korea merdeka dari penjajahan Jepang, keadaan Korea belum makmur. Saat itu juga mereka harus menghadapi perang saudara hingga berakhir pada 1953 yang ditandai dengan terpecahnya Korea menjadi selatan dan utara.

Untuk itu, Korea Selatan mulai membangun kekuatan dengan mencanangkan program Five Year Economic And Social Development Plan dari tahun 1962 hingga 1966. Program inilah yang membawa kebangkitan Korea Selatan dan juga membangkitkan semangat nasionalisme pada masyarakat Korea untuk dapat berdikari menggunakan produk dan karyanya sendiri.

Dalam buku ini, Fuadh Naim menceritakan kisahnya di tahun 2007 saat pindah ke NTT. Dimana saat itu dia tidak memiliki banyak teman sehingga timbul sikap individualis, jarang bergaul, dan tidak aktif membuat dia akhirnya mengenal Korean Wave.

Mulai dari menyukai K-Drama seperti My Girl, My Sassy Girl, Jewel In The Palace, Princess Hours, dan banyak lagi, hingga ke K-Pop seperti Bigbang, Girls Generation, Shinee, 2NE1, Super Junior, dan lain-lain.

Tidak hanya itu, karena tergila-gilanya dengan budaya Korea, Fuadh Naim juga gila dengan semua produk-produk buatan dari Korea hingga lebih mencintai negara Korea (Daehan Minguk Manse).

Setelah perjalanan panjang akan kegilaan Fuadh Naim soal budaya Korea, mulai dari bahasa, produk-produk, dan kebudayaan lainnya, Ia mulai memikirkan setengah hidupnya yang  berada di persimpangan jalan antara hidup untuk agama atau hidup hanya untuk dunia, serta mencintai Korea.

“Ya, jadi satu hari gue udah mulai mengkaji Islam nih. Semua dari nol banget gue coba pelajari, dan waktu itu gue masih suka korea-korea-an. Jadi pengajian datang tapi nonton K-Pop dan drama jalan. Pikir gue yang penting gue shalat, puasa, baca Quran, dan gak ngerugiin orang lain itu udah cukup. Tapi lama-kelamaan, gue merasa berada di persimpangan jalan yang mengharuskan gue untuk memilih, gue menemukan titik di mana Korea dan Islam berada di jalan masing-masing dan gue harus milih kenapa bisa begitu? Apa sih salah Korea sampai enggak bisa berjalan beriringan dengan Islam?

Dalam buku ini, Fuadh Naim membeberkan beberapa fakta-fakta yang terselubung dari budaya-budaya Korea dari sisi negatifnya. Ada beberapa poin di antaranya, adanya kampanye LGBT, konsep Bromance, yaitu hubungan spesial antara laki-laki dengan laki-laki yang saling menunjukkan keromantisanmya, adanya pergaulan bebas, adanya pemakluman barang haram, adanya standar bahagia hanya pada dunia, adanya penyimpangan aqidah yang benar-benar nyata.

Gue harus berubah!

Seakan memasuki babak baru dalam hidupnya, pelan-pelan Fuadh Naim melakukan perubahan-perubahan nyata kearah yang lebih baik dalam memahami agamanya, Islam.

“Diwajibkan atas kamu berperang padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi yang kamu membenci sesuatu padahal itu sangat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. Ar Ra’du : 28)

“Dan gue justru lebih sering sok tahu mana yang terbaik buat gue. Gue masih nggak rela hiburan gue diusik, gue nggak suka kesukaan gue dilarang. Padahal bisa jadi dengan meninggalkan hiburan unfaedah ini, gue akan jadi semakin dekat dengan Allah, dipahamkan oleh Allah ilmu agama serta akan jadi ibu atau ayah yang mampu membimbing anak dengan Islam.

Kita akan menua tapi belum tentu mendewasa. Nggak tau kenapa awal-awal hijrah gue nggak bayangin kalau besok gue bakal jadi seorang ayah, mungkin elu yang baca suatu hari bakal jadi seorang ibu. Madrasah pertama bagi anak-anak yang Allah titipkan. Kita pun akan menjadi pendamping pasangan kita untuk sama-sama membangun rumah tangga menuju surga, maka dari itu ingat beberapa hal ini, lelaki yang baik untuk wanita yang baik begitu pula sebaliknya, anak akan bercermin pada kedua orang tuanya, serta janganlah membenci fokus untuk mencintai.”

“ Tidaklah suatu kaum berkumpul pada salah satu rumah-rumah Allah, membaca Al-Quran dan mempelajarinya diantara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan. Mereka akan diselimuti rahmat dan Allah akan menceritakan kepada mereka para malaikat ada di sisi-Nya.” ( HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Gue baca Quran terakhir kapan ya?  Itu juga karena kondisi terpaksa. Lebih sering nonton drama dan kepo-in Oppa, Scroll Scroll Scroll, tahu-tahu udah sejam dua jam. Nonton marathon drama betah, baca Quran 2 halaman gerah. Giliran bengong malah denger lagu Korea, akhirnya kalau bergumam selalu nyanyi karena nggak punya hafalan Qur’an di kepala, sedih banget dah gue.”

Dalam buku ini juga, Fuadh Naim menyampaikan cerita atas kekagumannya kepada Oppa-Oppa dan Eonni-Eonni Korea dengan ketampanan dan kecantikan tingkat dewa. Padahal, ada Nabi Yusuf dengan tingkat ketampanan 25% dari total manusia yang ada di bumi ini, dan tingkat ketampanan teratas dinobatkan kepada Nabi Muhammad SAW. dengan ketampanan 50% dari manusia yang ada di bumi.

Sebuah lembaga di Amerika, Population Referensi Bureau (RPB) mengklaim telah berhasil menghitung perkiraan total manusia yang pernah berdiam di bumi, yaitu sekitar 108 miliar jiwa. Artinya, Nabi Muhammad itu memiliki ketampanan yang setara dengan ketampanan 54 miliar manusia di bumi. Dari hitung-hitungan semacam ini, jelas bahwa ketampanan Nabi Muhammad SAW. sudah tidak diragukan lagi.

Dibandingkan dengan Oppa-Oppa Korea, ketampanan Nabi Muhammad SAW. sangatlah jauh dari mereka. Hanya Beliau yang memiliki paket lengkap dengan ketampanan dan akhlak mulianya. Maka dari itu, ganti Idol kamu mulai dari sekarang. Jadikanlah Nabi Muhammad SAW. sebagai contoh kita untuk menjadi manusia yang baik.

Semoga kita tidak salah menentukan pilihan dan kelak bisa bersama berada di surga-Nya, saling berbincang tentang lucunya kita dulu di dunia yang pernah salah mencinta.

Tetap semangat berpuasa, tetap produktif walaupun #dirumahaja. Salam literasi!

Penyunting: Muhammad Fadhlan Amri

 

Related posts

Seandainya Aku Bisa Menanam Angin

redaksi

Happy Birth-Die, Kisah Gadis Pembaca Kematian

redaksi

Sang Alkemis, Kisah Berkelana dan Berburu Mimpi

redaksi