Oleh: Ruth Jelita Laia
Terletak di Jalan Sakura III, Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, rumah ibadah Graha Maria Annai Velangkanni merupakan magnet wisata religi di jantung Kota Medan. Tempat ibadah sekaligus destinasi wisata ini pertama kali dibuka dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara, Rudolf Pardede pada tahun 2005. Kompleks gereja yang dibangun bergaya India‑Mughal ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Katolik, melainkan juga sebagai tujuan ziarah yang menarik peziarah serta wisatawan dari berbagai lapisan masyarakat.
Bangunan ini dirancang oleh R.P. James Bharataputra dan Dr. Ir. Johannes Tarigan, S.J., dengan menonjolkan perpaduan estetika India‑Mughal. Kubah‑kubah bulat, lengkungan berornamen, dan eksterior berwarna putih memberikan nuansa eksotis yang kontras dengan lanskap perkotaan Medan.
Ornamen rumit pada pintu dan jendela memperkaya nilai estetika bangunan sekaligus memikat perhatian pengunjung sejak langkah pertama. Interior gereja menawarkan ruang doa yang luas, dirancang untuk menampung ribuan jemaah pada hari‑hari perayaan. Selain itu, pencahayaan alami melalui jendela besar serta tata letak altar yang sederhana dan khidmat, menciptakan suasana kontemplatif bagi setiap pengunjung.
Setiap hari, khususnya menjelang sore hingga gereja ditutup pada pukul 18.00, halaman kompleks rutin dipenuhi oleh kelompok peziarah yang bergerak pelan, duduk bersama, atau melaksanakan nazar secara tertib. Praktik nazar, doa bersama, penyalaan lilin, serta penitensi melalui peziarahan jalan kaki merupakan pemandangan yang sering ditemui di Velangkanni. Suasana tersebut tidak hanya mencerminkan intensitas iman, melainkan juga menegaskan solidaritas spiritual antar umat. Dalam kegiatan ini, para peziarah saling memberi dukungan, bertukar kesaksian pengalaman rohani, dan secara bergiliran memimpin doa.
Sejarah berdirinya Graha Maria Annai Velangkanni di Medan berakar pada devosi terhadap Bunda Maria yang meluas di kalangan umat Katolik setempat. Peresmian pada 2005 dan konsekrasi altar oleh Uskup Agung Medan menegaskan posisi gereja ini sebagai pusat pastoral yang signifikan. Dengan lokasi yang mudah diakses dan fasilitas untuk perayaan misa harian maupun kegiatan khusus, Velangkanni cepat berkembang menjadi titik fokus kegiatan rohani dan perayaan komunitas.
Dampak wisata religi terhadap lingkungan sekitar juga tampak signifikan. Kehadiran peziarah mendorong pertumbuhan ekonomi mikro di kawasan Tanjung Selamat. Berbagai UMKM mulai berkembang di kawasan tersebut, seperti pedagang bunga, penjual lilin, kios makanan, dan penginapan skala kecil menjajakan layanan bagi peziarah dan wisatawan.
Graha Maria Annai Velangkanni juga menyediakan situs resmi, yaitu velangkanni.com. Situs ini menyampaikan berbagai informasi praktis terkait jadwal misa, program devosi, serta kegiatan komunitas, sehingga memudahkan perencanaan kunjungan bagi wisatawan yang berombongan.
Pertumbuhan kunjungan tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan. Lonjakan peziarah pada hari besar dan musim nazar menuntut pengaturan lalu lintas, manajemen kerumunan, serta perhatian lebih terhadap kebersihan dan pemeliharaan bangunan. Pengurus gereja bekerja sama dengan aparat setempat secara berkala mengatur alur masuk‑keluar, menambah relawan untuk mengarahkan jemaah, dan menjalankan program pengelolaan sampah untuk menjaga kenyamanan serta kelestarian situs.
Bagi banyak pengunjung, pengalaman di Velangkanni melampaui sekadar apresiasi arsitektur. Kunjungan sering dimanfaatkan untuk mencari ketenteraman, menyampaikan permohonan doa, atau menyediakan waktu untuk merenung. Berdiam sejenak di bangku gereja atau berjalan mengelilingi halaman kerap menjadi momen refleksi pribadi yang meninggalkan kesan mendalam. Suasana yang tenang dan ritme liturgi harian mendukung suasana kontemplatif tersebut. Kehadiran unsur estetika dalam desain bangunan turut memperkuat pengalaman spiritual bagi pengunjung.
Graha Maria Annai Velangkanni menjadi contoh bagaimana ruang ibadah yang dirancang dengan kepekaan budaya mampu menjadi titik temu antara seni arsitektur dan pengalaman religius. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan serta partisipasi aktif komunitas, Velangkanni diperkirakan akan terus berfungsi sebagai tujuan wisata religi yang menawarkan suasana doa yang hening sekaligus apresiasi terhadap nilai estetika. Bagi warga Medan dan peziarah yang mencari ruang ketenangan di tengah kota, gereja ini tetap membuka pintunya hingga petang, menyambut setiap langkah yang singgah untuk berdoa.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment