Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Kabar Kampus Kabar SUMUT

Ecoprint: Dari Limbah Jadi Karya!

Penulis: Adiesti Rochma Yulian

Medan, Suara USU. Dengan didasari oleh kekhawatiran kerusakan lingkungan akibat limbah pewarna dari berbagai industri yang dapat berakibat fatal bagi ekosistem. Kekhawatiran ini lah yang memotivasi Muhdaril Ahda dan timnya untuk memanfaatkan teknik pewarnaan Ecoprint yang diharapkan dapat mengurangi efek  buruk bagi lingkungan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di alam.

Ecoprint adalah proses menciptakan sebuah kain bermotif, di mana motif tersebut berasal dari tanaman asli. Ecoprint mempertahankan warna dan bentuk dari tumbuhan yang menjadi motifnya. Sesuai namanya ecoprint dari kata eco asal kata ekosistem (alam) dan print yang artinya mencetak, batik ini dibuat dengan cara mencetak dengan bahan-bahan yang terdapat di alam sekitar sebagai kain, pewarna, maupun pembuat pola motif.

Ahda menuturkan bahwa menemukan beberapa kesulitan dalam penelitian Ecoprintnya. Terutama dalam hal memadupadankan motif dan warna yang akan dihasilkan.

“Cukup sulit untuk memadupadankan motif dan warna yang akan dihasilkan dari daun tersebut, diperlukan kreatifitas, kesabaran,  ketelitian dan keuletan dalam mengolah produk. Untuk menghasilkan satu produk ecoprint, kami harus mencari kertas daur ulang Ecoprint yang sesuai, lalu mendaur ulangnya, mengeringkan kertasnya. Lalu kertas yang sudah kering tersebut masuk ke proses pewarnaan ecoprint,” ucap Ahda

Untuk proses pewarnaan ecoprint juga tidak mudah, karena Ahda dan timnya harus melakukan berbagai trial and eror untuk memadupadankan motif dan warna yang cocok dan sesuai sehingga dapat menghasilkan produk yang bernilai seni yang tinggi.

Ada peluang bisnis yang menjanjikan dari industi eco print ini selain untuk mengurangi limbah  dan permasalahan lingkungan. Dengan modal yang tidak banyak dan bahan baku yang banyak di alam, Ahda merasa industri ini cocok untuk para milenial yang ingin mencari pemasukan tambahan dengan modal yang minim.

Ahda berharap semoga teknik pewarnaan ecoprint dapat menjadi sebuah tren baru dalam industri kreatif sehingga dapat meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan dari pewarna sintetis.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri

Related posts

Pelantikan Pengurus Baru KBSI, Ini Harapan Ketua Terpilih

redaksi

IMSI’S Annual Symposium 2021 Bagi Cara Belajar Bahasa Inggris yang Efektif!

redaksi

Gamadiksi USU Jalin Silaturahmi Melalui Family Gathering Virtual

redaksi