Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Agenda

Gelar Talkshow Bahas KPK, Hatta Muda Ajak Mahasiswa Semangat Konsisten Bergerak dalam Pemberantasan Korupsi

Oleh: Yessica Irene

Suara USU,Medan. Pembahasan seputar pelemahan KPK yang tak kunjung usai membuat Hatta Muda tertarik untuk menyalakan semangat mahasiswa untuk turut serta menyusut arah kasus ini sampai titik terakhir.

Dengan mengundang beberapa narasumber yang pastinya berperan penting terhadap kembalinya demokrasi Indonesia yaitu Yudi Purnomo Harahap selaku ketua WP KPK, Asfinawati selaku ketua YBLHI serta perwakilan dari mahasiswa yaitu Fakhrul Firdaus selaku Presiden Mahasiswa UNSOED.

Talkshow dengan judul “KPK Masa Kini, Mahasiswa Bisa Apa?” ini diselenggarakan melalui platform zoom meeting yang dimulai pada pukul 20.00 WIB. Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC, Nadya Kahiri dan kemudian diserahkan kepada Aldho Syahputra selaku moderator untuk membawa jalannya diskusi.

Untuk memantik jalannya diskusi, setiap narasumber diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangannya melihat keadaan KPK saat ini, mereka menyampaikan bahwa KPK saat ini terlihat jelas diganggu independensinya. Kekuatan KPK bukan hanya milik pemimpinnya tetapi juga milik para pegawainya. Para anggota KPK yang sudah berjerih payah dalam mengungkap sejumlah kasus yang selama ini tertutup rapat malah seakan-akan dibuang begitu saja oleh KPK.

Yudi mengungkapkan bahwa alih status pegawai KPK ke ASN adalah salah satu upaya melemahkan KPK. Ia juga menyampaikan bahwa saat ini yang menjadi persoalan bukan sekedar 75 pegawai KPK saja, tetapi menyangkut masa depan KPK kedepannya.

Kemudian menanggapi dari sudut pandang mahasiswa, Fakhrul menyampaikannya pendapatnya bahwa mahasiswa mengambil peran penting dalam menyusut kasus ini. Ia menyampaikan bahwa sebagai mahasiswa, kita bisa turut peduli dan bergerak, dimana saat ini persoalan KPK hanyalah muara dari berbagai hilir.

“Peran mahasiswa saat ini bukan membela 75 pegawai KPK, tetapi menyelamatkan agenda pemberantasan korupsi melalui beberapa pergerakan dan konsolidasi,” ungkap Fakhrul. Membahas mengenai mahasiswa yang terkendala jarak terhadap pimpinan mahasiswa.

Presiden Mahasiswa UNSOED ini menyampaikan bahwa bergerak tidak bisa dibatasi oleh geografis. Saat ini zaman sudah semakin canggih, setiap pendapat bisa dituangkan melalui media sosial bahkan diskusi online. Tugas kita sebagai mahasiswa yang memiliki previllige untuk mengarungi dalamnya sumur pendidikan adalah menyadarkan publik serta menguasai ruang opini publik, dimana jika kita hanya diam dan tidak mengkritisi setiap isu yang berkembang maka masyarakat pun dengan mudah mengamini setiap kelicikan para pemimpin lewat aksi perombakan konstitusi kita saat ini.

Setiap mahasiswa diajak untuk hadir dalam aksi demokrasi, hal paling sederhana yang dapat dilakukan adalah mengkritisi lewat sosial media. Sebab kita bebas menyuarakan pendapat kita, dan mengedukasi publik serta membawa opini publik dengan pendapat kritis kita sebagai mahasiswa terdidik.
Bahwa sebenarnya peduli dan bergerak adalah hal yang sederhana , tetapi bagaimana kita melakukannya secara konsisten adalah kunci berhasilnya perjuangan kita. Jika kita hanya bergerak sendiri maka usaha tersebut belum maksimal, kita harus bersama-sama dalam menuntaskan kasus alih status Pegawai KPK ini demi kembalinya demokrasi yang seutuhnya kepada masyarakat, bahwa framing yang begitu kejam terhadap KPK bisa saja berlanjut terus kedepannya. KPK adalah simbol dari demokrasi kita.

Setiap narasumber yang hadir dalam talkshow malam ini tak henti-hentinya menyuarakan semangat mahasiswa untuk memberikan tekanan terus kepada Presiden dan Ketua DPR. Serta seluruh mahasiswa terus didorong untuk turun ke jalan dan melangsungkan aksi, karena aksi demonstrasi adalah elemen kunci untuk merubah peradaban.

“Perjuangan masih panjang, setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Saat ini adalah waktunya teman-teman, kita tidak boleh membiarkan republik ini hanya dikuasai oleh segelintir orang, dengan jempol pun bisa merubah dunia,” tegas Yudi.

“Masa-masa ini adalah masa kegelapan, perlu ada orang yang berani untuk menyalakan api demi menerangi kegelapan itu. Dan saat ini kita berada dalam kelompok mayoritas, dimana semua orang sudah muak dengan setiap drama yang dilakukan pemerintah. Terus semangat dan jangan ragu untuk bergerak, karena kita adalah satu dan kita banyak sekali,” tutup Asfinawati.

Talkshow ini ditutup dengan pembacaan narasi oleh moderator dan dokumentasi dengan menggunakan gambar #SelamatkanKPK, hal ini juga diinisiasi oleh Hatta Muda untuk mengadakan campaign yaitu menyebarluaskan tagar #SelamatkanKPK lewat media sosial Instagram, Whatsapp maupun Line.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri

Related posts

Mahasiswa Bisa Dapat 2,4 Juta Rupiah dari Program Kampus Mengajar

redaksi

Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Mengadakan Webinar Bertajuk Ethical Clearance Dalam Penelitian Kesehatan

redaksi