Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Kabar Kampus

Hari Terakhir Pesta Demokrasi Fakultas Hukum: Menilik Pembatalan PEMIRA dari Kacamata Para Peserta!

Oleh: Gracyan Eukario dan Wirayudha Azhari Lubis

SUARA USU, Medan. Pada tanggal 4 Juni 2021, KPU Fakultas Hukum mengeluarkan timeline pemira, yang mana pemira kali ini merupakan pemilihan ulang setelah Pemira Fakultas Hukum sebelumnya resmi dibatalkan pada tanggal 23 Mei 2021, data ilansir dari Instagram KPU FH USU.

Setelah terjadinya kekisruhan akibat pembatalan pemira kali ini, Tim Suara USU berhasil mewawancarai 2 pihak dari seluruh peserta pemira Fakultas Hukum. Paslon yang berhasil kami hubungi ialah paslon 01 dan paslon 02, sedangkan paslon 03 dan KPU tidak memberikan tanggapan saat dihubungi.

Samuel Batubara selaku ketua tim sukses paslon 02 memaparkan kejadian terkait kisruh menurut pandangannya.

“Yang menjadi permasalahan ada pada deadline time yang dikasih oleh KPU. KPU sering mengundurkan jadwal-jadwal yang ditentukan sebelumnya, mulai dari jadwal pemira itu dilakukan, itu diundur sekitar sampai 2-3 hari. Yang menjadi puncak pemira ini, adalah ketika pemira ini dibatalkan,” terangnya.

Menurut Samuel, pembatalan ini disebabkan oleh adanya Hacker. Hacker ini tak diketahui dari pihak mana, namun yang jelas membuat kecewa karena hacker ini merusak demokrasi dan hanya membuat rusuh di pemira ini.

Adapun dari pihak Paslon 01, mereka menyebutkan beberapa kejanggalan yang terjadi dalam pemira FH USU untuk periode 2021/2022. Menurut kesaksian mereka, kejanggalan sudah terjadi sejak hari pertama, kejanggalan pertama yang terjadi adalah terjadinya pengurangan suara pada site Livecount yang di bagikan oleh KPU.

“Pada pukul 10 Lewat, terjadi pengurangan suara yang dialami oleh Paslon 01, yang awalnya sekitar 80 suara, kemudian berkurang sekitar 20 suara. Kami melakukan reaksi keras terhadap pihak KPU atas pengurangan suara yang terjadi, tapi tidak ada respon sama sekali dari Pihak KPU. Bahkan hingga detik penutupan pemira hari pertama, sekitar pukul 5 sore, kami mengalami kejadian yang serupa lagi, yaitu pengurangan suara oleh pihak KPU,” terang Luthfi ketua tim sukses paslon 01.

Lalu menurut pengakuan Luthfi selaku ketua tim sukses paslon 01, terjadi ketidaknormalan pada pemira hari kedua, sekitar pukul 2 siang menjelang 3 jam penutupan pemira hari kedua, Total suara masuk pada livecount yang dibagikan oleh pihak KPU, telah terjadi sekitar 95% suara masuk dari total 2302 Daftar Pemilih Tetap (DPT).

“Hal ini merupakan hal yang tidak normal. Karena jika berkaca pada proses perpolitikan yang lalu-lalu. Bahkan pada tahun lalu saja, hanya masuk sekitar 1400 suara dari total sekitar 3000 Daftar Pemilih Tetap (DPT). Tentu saja suara yang masuk ini masuk kedalam suara golput (tidak sah), namun, hal ini tentu saja merugikan semua pihak yang berpartisipasi dalam pemira kali ini,” jelas Luthfi.

Dilain pihak, paslon 02 mengaku mereka mendapat kejanggalan pada hari pertama pemilihan. Para pemilih yang bisa memilih kebanyakan dari calon pasangan sebelah, sedangkan dari pihak 02 tak bisa memilih.

“Jika terjadi lonjakan (saat pemilihan), bisa jadi servernya down. Kami menjadi sedikit kecewa dengan kpu. Mereka (pemilih dari pihak lain) bisa memilih di hari sebelumnya dan menunggu di hari selanjutnya. Itu yang membuat kami kecewa dengan KPU,” tambah Samuel.

Dari pengakuan 02, perubahan total suara juga merugikan mereka yang awalnya sudah unggul.

“Yang saya lihat kemarin, itu dari data grafik memang pemira itu muncul grafik yang diunggulkan oleh paslon 01. Namun bila dilihat dari database, data kami itu selisih 400 dan (red: pihak) 02 itu unggul.”

Pihak 01 memaparkan bahwa menurut audiensi terakhir kali yang dilakukan KPU terhdap seluruh partisipan pemira, menyebutkan bahwa ada pihak-pihak (hacker) yang mencoba membobol situs pemira FH USU.

Ketidakjelasan yang dilakukan KPU pada hari kedua yaitu penutupan situs pemilihan gubernur mahasiswa FH USU pada pukul 2 siang dengan alasan maintenance. Hal ini dilakukan karena terdapat lebih dari 100% suara masuk ke dalam penghitungan suara tersebut.

Namun, pihak 01 yang saat itu sedang unggul sekitar 15-20 suara merasa hal itu sangat tidak wajar karena dilakukan secara sepihak hingga pemira itu kemudian dibatalkan. Dengan total suara 1009 di tangan kubu 01, 998 suara di tangan kubu 02.

“Kita harus konsisten dong dengan hasil suara terakhir yang ditampilkan dalam livecount pada jam 2 siang itu. Bukan karena kita unggul suara, tetepi kita harus tetap pendirian karena livecount itu kan benar-benar disaksikan oleh banyak pihak,” tutur Luthfi.

Ketidakjelasan ini juga dirasakan dari pihak 02. Setelah sebelumnya saat technical meeting, Samuel sudah mencecar banyak pertanyaan kepada pihak KPU, seperti apakah kalian siap dengan sistem yang kalian bangun? Apa kalian bisa menjamin tidak ada hacker ataupun pihak ketiga yang merusak sistem pemira?

Menurut pengakuan Samuel, saat itu KPU menyatakan siap dengan sistem mereka, dan nyatanya pada hari ini kpu gagal dengan janjinya dan tidak dapat memenuhi.

Salah Satu yang menarik dari pembatalan Pemilihan Raya (PEMIRA) pada tanggal 23 mei 2021 ialah munculnya plt KPU. Pihak 02 cukup kaget pada awalnya, dan menerima munculnya plt ini. Menurut Samuel, hal ini memang wajar dan lumrah karena dari info yang diterimanya, ketua kpu sebelumnya dikabarkan ada sakit.

“Bila Ketua kpu tidak ada respon, maka pemira gabisa berjalan dengan baik. biarlah itu menjadi permasalahan internal. itu hal yang lumrah saya rasa dalam sebuah organisasi, ketika ketua kpu tidak ada respon maka dipltkan,” terang Samuel.

Dari pihak 01, mereka mendengar isu setelah melakukan pembatalan pemira, akan terjadinya pembubaran tim KPU. Hal ini menurut paslon 01 merupakan Hal yang mematikan demokrasi karena tidak mengundang seluruh tim partisipan pemira FH USU mengakibatkan terjadinya keputusan sepihak oleh KPU FH USU.

Pihak 02, memaparkan MPMU perlu dan harus lebih ketat lagi menyeleksi sosok untuk ketua KPU.

“Memang harus betul-betul independen dan steril. Kalo Seperti ketua KPU saat ini karena dia berlatar belakang suautu organisasi, sehingga menimbulkan beberapa asumsi publik,” imbuh Samuel.

Samuel berharap KPU lebih tegas dan transparan. KPU tidak perlu takut diintervensi. 02 juga mengharapkan adanya badan pengawas sebagai tempat mengadu permasalahan. Dilain sisi, 02 mendukung pemilihan ulang yang dibuat kali ini. Mereka merasa KPU saat ini sudah cukup transparan dalam hal database.

“Tidak menjadi sebuah kebanggan kami untuk menang karena hacker. Kami sangat setuju dengan kpu perihal dibatalkan nya pemira ini, agar dilakukan kembali pemilihan yang lebih jujur. kami tidak mengambil konsep untung rugi. Kami mengambil konsep demokrasi harus jujur dan bila tercederai yang kita lakukan adalah pemilihan ulang. Itu komitmen kami, mau kami rugi atau untung, yang penting demokrasi ini tetap dijaga,” tambahnya.

Saat ditanyai apakah Tim 01 bersedia untuk kemudian pemira ini diulang? mereka menyebutkan bahwa mereka tetap bersedia, tetapi pihak KPU FH USU harus mempertanggungjawabkan hasil suara yang terakhir pada livecount itu.

Bahkan menurut Tim 01, saat kemudian pemira ini diulang akan mengakibatkan terjadinya kurangnya partisipasi dari mahasiswa FH USU karena harus memilih 2 kali. Hal ini tentu saja merugikan semua pihak partisipan PEMIRA kali ini.

“Bahkan sebelum pemira ini diulang saja, partisipasi dari mahasiswa FH USU itu sangat minim, dikarenakan juga kurangnya sosialisasi dari pihak KPU terkait akan diadakannya pemira ini. Banyak Mahasiswa yang bahkan tidak tau bagaimana mekanisme dan prosedur pemira kali ini. karena ini merupakan pemira online pertama yang dilakukan di FH USU,” tutur Luthfi mewakili Koalisi Kabar Baik

Di akhir wawancara, Samuel mengajak seluruh peserta dan mahasiswa Fakultas Hukum USU untuk mengambil peran dan bagian, serta aktif dalam pemilihan. Samuel juga mengingatkan ketika sudah memilih, untuk pemilih menjaga siapa yang sudah dipilih dan tidak diumbar karena bisa menimbulkan sebuah masalah sosial, seperti pengkotak-kotakan berdasarkan pilihan.

“Kawan kawan dan abang kakak senior saya tercinta yang ada di kampus, marilah kita sukseskan pemira di 2021 ini. Pilihlah calon yang memang sesuai dengan visi dan misi kita, jangan kita pilih karena kita kenal dia kawan dekat kita. Kita hari ini sudah mengalami pemerintahan mahasiswa yang sebelumnya tidak bertanggung jawab karena menyelesaikan masa studi sebelum masa jabatan berakhir. Ketika kita memilih, kita mentukan kerah mana pemerintahan mahasiwsa fakultas hukum kita ini dibawa. Jika kita ingin membawa ke arah yang baik, pilihlah dari visi misi yang mereka tawarkan dan lihat background mereka. Cukuplah apa yang kita pilih tersimpan dalam hati, agar terjalin hubungan yang baik diantara kita semua karena saking luasnya perkawanan di fakultas hukum kita ini,” pungkasnya.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri

Related posts

USU Sediakan 2.980 Kuota KIP Kuliah Bagi Mahasiswa Terdampak Covid-19

redaksi

 Harapan Pemulihan Ekonomi Indonesia Pasca Pandemi

redaksi

UKM Gamadiksi USU Adakan Webinar Gahani untuk Meningkatkan Kreativitas Mahasiswa dalam Bidang Seni

redaksi