Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Kabar Kampus

KPS FH USU Gelar Webinar Series Peringatan Hari Anti Peredaran Gelap dan Penyalahgunaan Narkotika

Oleh: Gracyan Eukario

Suara USU, Medan. Komisi Peradilan Semu Fakultas Hukum USU atau yang lebih kerap dikenal dengan singkatan KPS FH USU menggelar webinar series yang dimulai dari tanggal 23 sampai dengan 25 Juni. Webinar ini dilakukan secara gratis, dan terbuka untuk umum.

Webinar series ini diadakan dengan tujuan memperingati hari anti peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika dari pandangan hukum. Oleh sebab itu, webinar ini mengangkat tiga tema pembahasan penting yaitu akses keadilan bagi perempuan berhadapan dengan hukum dalam tindak pidana narkotika (23 Juni), arah kebijakan hukum narkotika (24 Juni), dan permasalahan penegakan hukum kasus narkotika (25 Juni).

Webinar ini menghadirkan pembicara yang berkompeten dibidangnya, diantaranya Maidina Rahmawati (Researcher Institute for Criminal Justice Reform), Miko Susanto Ginting (Akademisi Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera), dan Ricky Gunawan (Global Drug Policy Program, Open Society Foundation).

Diskusi yang dibawakan oleh KPS FH USU ini menarik perhatian banyak peserta, sampai pada hari terakhir yaitu dengan diskusi mengenai permasalahan penegakan hukum yang berhasil menarik peserta untuk ikut berkomentar mengenai permasalahan penegakan hukum kasus narkotika ini di Indonesia.

Secara Garis besar, Ricky menjelaskan bahwa hukum yang mengatur narkotika sendiri masih rapuh. Banyak persepsi masyarakat yang salah juga karenanya,“WHO menunjukkan bahwa hanya 10-20 % pengguna narkotika yang hidupnya problematik, 90 % baik-baik aja. Narkotika menurut uu narkotika ada manfaat kesehatan, tapi kenapa disebut narkoba (narkotika berbahaya)? Kita melabel orang yang memakai narkotika, padahal mereka yang butuh dukungan untuk mengembangkan hidup yang lazim.”

Menurut Ricky, pelarangan narkotika dan sejenisnya justru akan membuat peredaran ini semakin ganas, terutama dalam pasar gelap, terutama akan semakin luasnya jejaring mafia-mafia narkotika.

Ricky menjelaskan, dalam menangani kasus peredaran narkotika ini diperlukan adanya regulasi yang baik, sehingga kemungkinan terjadinya hal yang tidak diinginkan akan semakin kecil. Bila tidak diregulasi, maka dari pasar gelap sendiri pun tidak akan tahu  bahan campuran dalam narkotika tersebut, dan malah akan menjadi peluang pembahayaan untuk penggunanya.

Di Indonesia, permasalahan penegakan hukum tentang narkotika masih sering terjadi. Ricky menjelaskan ada dua kasus hukuman mati akan narkotika, dan terdapat banyak keselewengan HAM. Kasus pertama, Jeff seorang warga Nigeria yang dihukum mati karena ditemukan narkotika di usaha restorannya. Jeff tidak menyimpan apapun, dan tidak tahu mengapa narkotika nya bisa ada disitu. Jeff dianggap bersalah karena kulitnya yang hitam, dan menyamakan stereotype bahwa semua orang kulit hitam sebagai pengguna. Di kasus kedua, ada Merry utami yang diberi hukuman mati atas kesalahan yang dia tidak ketahui. Dia hanya membawa paketan yang disuruh oleh orang, dan saat dicoba hubungi kembali oleh Merry, sang penitip tidak memberi respons. Pada 2016 dia hampir dieksekusi, hingga membuatnya ketakutan setiap mendengar pintu terbuka.

“Penegakan hukum kita rasis, tidak memandang materi sesungguhnya,” pungkas Ricky.

Redaktur: Yessica Irene

Related posts

Mahasiswa USU Panen Juara di Gelaran Ramadhan Fest UNIMED

redaksi

Kupas Tuntas Jurusan Anak USU bareng Ikatan Mahasiswa Muslim Berastagi IMAMUGI

redaksi

Kegagalan Dan Pantang Menyerah Jadi Penguat Diri Secarik Kisah Sang Executive Producer Beritasatu TV

suarausu