
Oleh : Lucy Kezia Simarmata
Suara USU, Medan. Ketika sejarah ditulis oleh orang yang menang, suara orang yang mengalami kesedihan seringkali terabaikan. Salah satu suara yang berusaha agar tidak terlupakan hadir dalam karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: Catatan Pulau Buru. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada tahun 2001, dengan tebal sekitar 218 halaman. Seperti banyak bukunya, karya ini lahir dari catatan-catatan yang ditulis Pramoedya di Pulau Buru, tempat ia diasingkan karena aktivitas politiknya selama bertahun-tahun.
Buku ini berbeda dari novel-novel fiksi Pramoedya yang lain. Bukan berbentuk cerita dengan alur dramatis, tetapi berbentuk dokumentasi dan kesaksian. Isinya menggambarkan kisah pilu para remaja perempuan Indonesia yang diberi harapan oleh tentara Jepang, tetapi justru mengalami penderitaan menjadi korban perbudakan seksual dalam sistem “jugun ianfu” selama masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945).
Pada tahun 1943, Jepang mempromosikan program yang menjanjikan kesempatan belajar ke Tokyo atau Shonanto bagi remaja perempuan Indonesia. Program tersebut dikelola oleh Sendenbu, sebuah lembaga propaganda militer Jepang. Banyak keluarga percaya dan merasa bangga bila putrinya terpilih. Namun, kenyataannya janji itu hanyalah tipu daya. Para remaja perempuan itu terpaksa meninggalkan rumah mereka, hanya untuk dijadikan budak seks di tempat-tempat prostitusi militer Jepang.
Pramoedya mengisahkan bagaimana para remaja perempuan ini dipindahkan, dipisahkan dari keluarga mereka, lalu hidup dalam penderitaan. Setelah Jepang kalah perang dan meninggalkan Indonesia, banyak dari mereka tidak bisa kembali ke kampung halaman. Mereka mengalami trauma fisik dan mental, ditambah stigma sosial yang justru menyalahkan mereka. Banyak dari mereka hidup terasing dan terlupakan. Beberapa kisah mereka Pramoedya temui atau dengar kembali saat ia berada di Pulau Buru.
Keberanian buku ini terletak pada upayanya membuka luka sejarah yang lama ditutupi. Narasi resmi sejarah Indonesia jarang menyinggung kisah jugun ianfu secara detail, apalagi menyorotinya dari perspektif korban. Pramoedya menghadirkan catatan ini bukan hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan. Ia seolah berkata bahwa para korban ini tidak boleh hanya dikenang sebagai “perempuan penghibur” dalam catatan kolonial, melainkan sebagai manusia yang dirampas martabatnya.
Salah satu kelebihan utama buku ini adalah berani membahas isu yang sering terabaikan. Mengingat latar belakang penulis sebagai seorang sastrawan dan penyintas politik, ia mampu menceritakan kisah ini dengan penuh rasa empati. Bahasa yang digunakannya bukan hanya menggambarkan suasana, tapi juga memicu pembaca untuk merasakan perasaan dan pengalaman para korban secara lebih dalam.
Penulis menuliskan nama, asal, dan jejak beberapa korban. Dalam sejarah yang sering mengabaikan identitas mereka, upaya ini penting agar perempuan-perempuan itu tidak hilang dari ingatan bersama masyarakat.
Selain itu, buku ini memiliki dampak sosial dan politik yang besar. Ia mengingatkan kita bahwa trauma perang tidak hanya melibatkan pertempuran dan kekalahan negara, tetapi juga tubuh-tubuh yang menjadi arena konflik. Penulis mengajak pembaca berpikir tentang bagaimana negara memperlakukan korban, bagaimana masyarakat memberikan stigma, dan bagaimana keadilan seringkali tertunda.
Namun, buku ini juga memiliki kekurangan. Pertama, karena berdasarkan catatan dan kesaksian, dokumentasi yang ada kurang terverifikasi dengan sumber arsip resmi dari Jepang. Bagi pembaca yang ingin meneliti sejarah secara akademik dengan data arsip militer, mungkin buku ini terasa kurang memadai.
Kedua, karena sifatnya yang lebih mendokumentasikan, buku ini tidak menawarkan alur cerita dramatis dengan tokoh utama seperti novel pada umumnya. Hal ini mungkin membuat sebagian pembaca merasa kurang terhubung secara emosional, meskipun di sisi lain, gaya dokumentatif inilah yang memberikan kekuatan khusus pada karya ini.
Ketiga, buku ini membawa beban historis yang cukup berat. Bagi pembaca yang kurang paham tentang konteks pendudukan Jepang, istilah-istilah atau latar belakang sosial-politik dalam buku ini mungkin terasa sulit dipahami. Ada bagian-bagian tertentu yang membutuhkan pembacaan ulang agar maksud dan konteksnya benar-benar terungkap. Selain itu, buku ini juga memiliki keterbatasan dalam hal pertanggungjawaban hukum. Meskipun buku ini jelas mengecam kejahatan yang terjadi, ia tidak membahas lebih lanjut mengenai kemungkinan tindakan perbaikan atau aspek hukum internasional terkait perbuatan perang. Kritik dalam buku ini lebih bersifat moral dan politis, bukan secara hukum.
Secara keseluruhan, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer adalah karya yang sangat penting dalam literatur sejarah Indonesia. Buku ini menyuarakan sisi gelap pendudukan Jepang yang sering diabaikan dalam buku teks resmi. Pramoedya tidak hanya menulis, tetapi juga bersaksi, mengingatkan, dan menolak untuk melupakan.
Meskipun terdapat keterbatasan dalam hal dokumentasi resmi dan gaya penulisan yang lebih mengandalkan dokumentasi daripada narasi, kekuatan moral, dan humanis dalam buku ini menjadikannya bacaan yang sangat penting bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah Indonesia, terutama soal gender, kolonialisme, dan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, karya ini tidak hanya sekadar catatan sejarah, tetapi juga cermin kemanusiaan—agar tragedi seperti itu tidak terulang lagi, dan agar mereka yang pernah menjadi korban tidak pernah terlupakan lagi.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment