SUARA USU
Kabar Kampus

Memahami Eksistensi dan Tantangan Pekerja Sosial, IMIKS FISIP USU Hadirkan Webinar Pengenalan Kesejahteraan Sosial

Reporter : Taty Kristina Malau

Suara USU, Medan. Ikatan Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (IMIKS) FISIP USU sukses adakan webinar pada Sabtu (17/09) melalui platform zoom meeting. Kegiatan ini mengangkat tema pengenalan Kesejahteraan Sosial dengan judul “Eksistensi dan Tantangan Profesi Pekerjaan Sosial di Indonesia.”

Kegiatan ini merupakan webinar perdana di periode tahun ini, diadakan oleh Divisi Keilmuan dan Kajian Pustaka IMIKS dengan tujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan terkhususnya bagi mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU.

Agus Suriyadi, S.Sos., M.Si selaku Kepala Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU  dalam sambutannya mengatakan  bahwa saat ini, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial dituntut untuk menjadi lebih inovatif dan kreatif. Mengetahui bagaimana mengembangkan program studi serta memahami konteks ilmu kesejahteraan sosial secara umum.

“Karena kita pahami ilmu kita ini adalah ilmu yang sikapnya aplikatif, tentu saja dibutuhkan pengalaman-pengalaman empiris dan praktek. Tidak hanya mahasiswa namun juga dosen bersama-sama mengeksplore apa-apa saja yang diperlukan untuk itu. Saya berharap penggalian dan pemahaman tentang kesos, konseptual, terminologi, pengalaman praktikum yang luar biasa, prodi memiliki jejaring yang luar biasa terkait itu dan harus bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa,” ungkapnya.

Badryah, S.Sos yang sering disapa Kak Bay, selaku pemateri ialah Ketua Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) dan seorang pekerja sosial. Beliau menjelaskan jenjang karir Pekerja Sosial  untuk ASN yaitu Pekerja Sosial Pemula (terampil, mahir, penyelia) dan Pekerja Sosial Ahli Pertama (muda, madya, utama). Untuk non-ASN bisa bekerja di Lembaga pelayanan sosial, perusahaan, Rumah Sakit, Sekolah, LSM dan bahkan membuka lembaga sendiri. Beliau juga menjelaskan tentang YAFSI, suatu lembaga masyarakat/sosial di bidang fokus isu perempuan dan anak secara serta pengembangan masyarakat. Untuk program besar YAFSI ada pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, migitasi bencana berbasis masyarakat, literasi, dan wirausaha sosial.

“semoga apa yang telah saya sampaikan ini semakin meguatkan kawan-kawan,semakin meyakinkan menjadi seorang pekerja sosial dan dapat mengubah statement lama, kalian juga bisa bekerja di International Non-Government Organization,” tutup Badriyah.

Muhammad Farhan selaku Ketua Umum IMIKS berharap mahasiswa ikesos dapat memetik inti sari dari apa yang disampaikan oleh pembicara dan dapat dijadikan bekal nantinya, terkhususnya untuk mahasiswa baru. Hal ini merupakan suatu kesempatan berharga untuk bisa mendapatkan suguhan materi di awal perkuliahan yang berkaitan dengan masa depan pekerja sosial nantinya.

Redaktur : Elnada Nadhira Saleh

Related posts

Kolaborasi Kementerian Pengembangan Karir dan PEMA, Adakan Webinar Bertemakan Digital Era With Millenial

redaksi

Menerapkan Tingkahlaku Anak Dengan Teori Kognitif Serta Belajar Melalui Media Youtube

redaksi

Pameran Pers Mahasiswa Suara USU, Dulu Adalah Bagian Penting dari Hari Ini

redaksi