SUARA USU
Entertaiment Film

Review Teluh: Film Horor yang ‘B’ Aja

Foto: Youtube (Mercusuar Films)

Penulis: Hafaz Sofyan

Awal tahun, perfilman Indonesia memulai industrinya dengan beberapa film menarik. Tak tertinggal dengan genre horor, seperti Makmum 2 dan Teluh. Dua film ini sukses meramaikan topik obrolan para pecinta film.

Teluh, sesuai dengan judulnya, film yang satu ini menceritakan suatu alur berlatar dendam, yang dibalut dengan teluh, santet, atau apapun namanya.

Film yang rilis perdana pada 20 Januari 2022 ini menonjolkan jalan cerita yang penuh dengan balas dendam via ilmu hitam. Tak sedikit juga yang menganggap cerita ini sedikit membosankan dan bertele-tele. Bagaimana tidak, tiga per empat alur dari film menonjolkan hasil santet yang perlahan membunuh satu per satu, tanpa mempertajam dialog dan plot.

Cerita berawal dari Yulia (Farahdiba Ferreira) yang dihamili oleh bos tempatnya bekerja, Pak Indra (Baron Hermanto). Yulia dibikin pusing dengan keadaan yang menjeratnya. Alih-alih memberi pertanggungjawaban, Pak Indra malah menawarkan cipratan dari kekayaannya, asal Yulia mau menggugurkan kandungannya.

Cerita inilah yang menjadi orientasi dendam keluarga Yulia kepada keluarga Pak Indra. Selang beberapa bulan, dendam itu terbalaskan dengan teluh braja yang perlahan menghabiskan keluarga Pak Indra satu per satu.

Meskipun sempat berhasil membuat penonton bertanya-tanya di awal, tentang siapa pembunuh Yulia dan siapa pengirim teluh. Tetap saja, pertanyaan itu tak bertahan lama dan akhirnya mudah tertebak.

Penonton juga merasakan adanya beberapa miss/fail, yang membuat komposisi film ini jauh dari ekspektasi penonton. Beberapa juga menganggap Teluh jauh dari standar produksi film era modern ini. Baik dari plot, Computer-Generated Imagery (CGI), dan komposisi lainnya.

Sebut saja watak Bi Sutinah (Yati Pesek), sang pembantu di rumah keluarga Pak Indra, terlihat transisi watak yang terbilang sangat banting di tengah cerita. Awalnya ia seakan-akan terlihat paling paham dengan dunia ilmu hitam, tetapi seketika menjadi buta akan ilmu tersebut dan tak banyak membantu. Bahkan, ia malah memilih untuk pulang kampung pada saat keadaan berangsur memburuk. Di sini terlihat jika penonjolan watak tiap tokoh gagal konsisten.

Satu sampel lagi, orang tua Yulia, Ibu Mardiah (Vonny Anggraini), jika dipikir panjang, tampak mustahil bagi semua orang untuk menguasai ilmu santet dengan waktu yang sesingkat itu (kurang lebih 6 bulan). Sementara, jika kita melihat di akhir cerita yang memundurkan alurnya ke scene pembunuhan Yulia, Mardiah dan suaminya, Barnas, terlihat sangat rendah hati dan taat kepada agama.

Selain itu, juga terdapat beberapa scene yang terlihat dipaksa dramatis. Ketika anak Pak Indra, Yudha (Ferdi Ali) ingin memukul ibunya yang kerasukan dengan meja kayu. Mengapa tidak dengan benda lainnya yang lebih dekat? Ada kursi kayu dan beberapa alat lainnya di dekatnya.

Tak hanya itu, scene ketika Febby (Nadira Sungkar) tiba-tiba hamil juga terlihat janggal. Yudha mengambil kunci mobil untuk membawanya ke tempat berobat. Namun, Pak Indra-lah yang akhirnya membawa mobil itu karena ingin mengejar Mardiah yang diduga menjadi biang kerok dari rentetan kejadian yang dialami. Padahal, mobil yang terparkir hanya satu. Sebenarnya, siapa yang mengantongi kunci mobil? Atau film ini mengajarkan untuk terus berprasangka baik kalau kunci mobilnya ada dua? Sepertinya diragukan.

Bicara tentang CGI, penonton sah-sah saja jika merasa malu dengan hasil produksi film yang tayang di tahun 2022. Mengingat teknologi yang semakin maju, Teluh bahkan seperti mengingatkan kita pada series/sinetron di stasiun televisi Indosiar.

Mulai dari Ular yang masuk melalui mulut, telur penangkal yang pecah, api kebakaran yang maaf kata membawa kita kembali ke industri perfilman 10 tahun yang lalu. Semua yang bersangkutan dengan CGI benar-benar tidak mencapai ekspektasi para penonton. 3/10.

Pada akhirnya, film ini harus mengambil titik kekurangan menjadi batu lompatan untuk yang lebih baik ke depannya. Pastinya, Teluh tidak meninggalkan kekurangan secara mentah. Pelajaran beserta hikmah dapat kita ambil di ujung cerita bahwa perbuatan jahat akan mendapat balasan, dan ilmu hitam/santet tidak akan menyelesaikan masalah.

Nilai keseluruhan dari reviewer, 4/10 untuk skala 10, dan 2.3/5 untuk skala 5.

Ingin mengupas film ini lebih lengkap? Yuk, nonton filmnya di bioskop terdekat!

Redaktur: Yulia Putri Hadi


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Banjir Kritik, eFootball 2022: Ketika Harapan di Balas dengan Kekecewaan

redaksi

Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

redaksi

Tingkatkan Pemahaman Bisnis Digital, HMI Gelar Seminar Nasional dan Talk show Inspiratif

suarausu