SUARA USU
Buku Entertaiment

Seandainya Aku Bisa Menanam Angin

Penulis: Theresa Hana Karen Sidebang

SUARAUSU, Medan. “Seandainya aku bisa menanam angin. Saya akan memanen angin, menggunakannya untuk terbang mengantar saya bertemu bertemu anak-anak, guru-guru saya itu.” -Penangguk

Sepintas judul buku ini terbilang puitis dan membuat pertanyaan, untuk apa angin ditanam? Ternyata  “Seandainya aku bisa menanam angin” adalah ungkapan rindu yang puitis dan penuh imajinasi dari  Penangguk, seorang murid Sokola Rimba kepada guru dan teman-temannya.

Buku “Seandainya Aku Bisa Menanam Angin” merupakan buku karya Fawaz yang terbit pada tahun 2019. Buku ini adalah dokumentasi perjalan Fawaz mengajar bersama Sokola Rimba di berbagai daerah “primitif” di Indonesia, dari hutan dalam Jambi, suku Asmat di Papua, anak kaki Gunung Argopuro, dan beberapa tempat lainnya.

Fawaz mengawali buku ini dengan cerita mengajar anak-anak di komunitas suku rimba atau yang sering dikenal dengan Anak Suku Dalam di Jambi. Siapa sangka justru Fawaz lah yang banyak mendapatkan pelajaran. Ia jadi tahu bagaimana adat Suku Rimba menjaga hutan mereka.

Anak suku dalam sangat menjaga lingkungan dan alam tempat tinggal mereka. Seorang murid Sokola Rimba bernama Menosur mengajari Fawaz memilah pohon yang haram ditebang dan yang boleh ditebang sesuai dengan adat. Melihat kondisi hutan yang terjaga dengan baik di Jambi, hal tersebut menjadi bukti bahwa suku dalam mempunyai teori konservasi khusus yang dapat menjaga hutan sebagai sumber kehidupan mereka.

Berlanjut dengan perjalanan mengajar anak-anak Suku Asmat di Mamugu Batas Batu, Papua. Di sini Fawaz memperlihatkan sisi lain pendidikan. Ia menunjukan bagaimana cara Sokola mengajar.

Anak-anak Asmat tinggal di hutan lebat, mereka harus bisa memburu dan mengumpulkan makanan. Anak-anak  harus ikut orang tua untuk belajar memburu. Uniknya, Fawaz bersama sokola melarang mereka mengikuti kegiatan belajar bersama sokola dan sangat mengharuskan anak-anak untuk ikut orang tua mereka mempelajari hal tersebut.

Anak-anak Asmat boleh datang belajar kapan saja  tanpa jam ajar seperti sekolah formal biasa. Mereka akan datang belajar setelah melakukan pekerjaan bersama orang tua mereka. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan bukan hanya tentang membaca, menghitung dan menulis. Pendidikan juga tidak diadakan sekaku jam pelajaran di sekolah formal pada umumnya. Di buku ini, kita dapat melihat pendidikan yang fleksibel dan mengutamakan pelajaran tentang cara bertahan hidup sesuai dengan adat dan tempat tinggal mereka.

Cerita lain berasal dari anak-anak Kaki Gunung Argopuro adalah cerita anak-anak petani yang dilarang membantu orang tua untuk bertani. Mereka dipaksa bersekolah dan bermain saja. Hal ini terjadi karena sosialisasi dari RT yang menyebutkan  jika anak membantu orang tua sama saja dengan memperbudak anak. Padahal, saat membantu orang tua bertani, di sanalah mereka belajar, bersenang-senang dengan teman-teman sekaligus mendapat uang tambahan.

Fawaz menyatakan, “Seharusnya mencangkul, mengarit, dan pengetahuan bertani lainnya menjadi materi ajar yang diberikan kepada anak-anak petani di sekolah. Semua itu jauh lebih penting dan berguna untuk mempertahankan kehidupan mereka yang hidup di desa petani.”

Seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, “Sistem pendidikan dan pengajaran di Indonesia harus disesuaikan dengan kepentingan rakyat, nusa dang bangsa, kepentingan hidup kebudayaan dan hidup kemasyarakatan dalam arti seluas-luasnya. Maka harus diingat perbedaan bakat dan keadaan hidup antara anak didik yang satu dengan yang lain (daerah pertanian, perdagangan, pelayaran dan lain-lain). Maka perlu diadakan diferensiasi untuk memperbesar kemanfaatan bagi anak didik maupun bagi masyarakat dan negara.”

Perjalanan Fawaz dan Sokola Rimba adalah salah satu upaya mewujudkan sistem pendidikan yang diharapkan Ki Hajar Dewantara, mengutamakan kepentingan kehidupan manusia sesuai dengan keadaaan alam yang sangat beragam di Indonesia.

Perjalanan Fawaz di buku ini tentu banyak mengalami tantangan, adaptasi dengan lingkungan baru, serangan hewan buas, hingga ancaman malaria harus dihadapi oleh seorang pengajar.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Buku ini memberikan kita banyak sekali sudut pandang mengenai pendidikan kepada anak-anak di daerah “primitif”. Mengenali bagaimana cara anak-anak menghargai perbedaan, mencapai ingin, dan mencintai alam.

“Mengajar bersama Sokola Rimba bukan perkara hitung-hitungan dan tata bahasa. Saya mengajar sekaligus diajari: tentang sesama, alam raya, dan tentu saja, cara berbahagia.” -Fawaz.

Penyunting: Zukhrina Az Zukhruf


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Anak Rantau: Petualangan Mencari Ilmu dan Memaknai Kata Dewasa

redaksi

Teman Tapi Menikah 2: Tantangan Menjadi Orang Tua Muda

redaksi

Elokaration Di Rumah Cendi, Sebuah Cerita di Bumi Rafflesia

redaksi