Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Kabar SUMUT

Yayasan Srikandi Lestari : Perempuan Tangguh Untuk Kesejahteraan Lingkungan

Oleh: Wirayudha Azhari Lubis

Berawal dari keresahan akan hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di daerah Pangkalan Susu, Mimi dan teman-temannya mulai menggagas sebuah yayasan bernama Yayasan Srikandi Lestari. Yayasan ini mulanya berasal dari diskusi-diskusi kecil dengan para aktivis lingkungan yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan. Diskusi-diskusi kecil ini pun awalnya membahas keadilan ekologis bagi perempuan dan anak tidak didapatkan oleh warga sekitar PLTU pangkalan susu.

“Jika dikaitkan dengan isu lingkungan, yayasan ini kayaknya Manly banget ya. Tapi mindset itu yang mau kami ubah, kalau perempuan itu pun harus memperjuangkan hak-haknya” tutur Mimi.

Yayasan yang bergerak di bidang keadilan ekologis (keadilan bagi lingkungan ini) didirikan oleh beberapa orang wanita. “Meskipun anggota dari kaum lelaki juga ada, tetapi yang berperan dan bergerak aktif itu kebanyakan dari kaum wanita” jelas Mimi.

Mimi dan teman-teman yang bergabung dalam Yayasan ini terus memiliki kegiatan keseharian yaitu untuk membantu warga dan sekitar pangkalan susu ini. Bantuan yang diberikan oleh anggota Yayasan Srikandi ini banyak motifnya, tetapi yang paling sering dilakukan adalah memberikan edukasi bagi warga sekitar. Minimnya edukasi dari Pemerintah terhadap warga sekitar menjadikan kawasan ini sangat-sangat berbahaya bagi warga sekitar.

Oleh karena itu, para aktivis yang tergabung di dalam yayasan ini rutin memberikan edukasi bagi warga agar lebih mengerti bahaya dari limbah batubara itu sendiri. Mimi menyebutkan bahwa sudah terlalu banyak pembodohan yang dilakukan oleh pihak perusahaan terhadap warga sekitar. Mimi menjelaskan bahwa pembodohan itu bukan bermaksud tanpa tujuan, selain itu pembunuhan jiwa kritis yang dilakukan oleh pihak perusahaan ini juga diselingi dengan banyaknya janji-janji manis untuk masyarakat.

“pembodohan-pembodohan yang dilakukan mereka ada tujuan tersendirinya, yaitu untuk membunuh jiwa kritis di masyarakat” jelas Mimi.

“Mereka menjanjikan untuk membuat lapangan kerja sebanyak-banyaknya, memastikan tidak ada lagi masyarakat yang menganggur. Nyatanya apa? mau masuk kerja disitu aja pun harus bayar, itu pun jadi buruh kasar di sana, teknisinya yang kerjanya enak dan gajinya besar itu dari luar negri semua” jelas Mimi.

Pembodohan dan pembunuhan jiwa kritis itu hanya demi satu tujuan, yaitu agar mereka tidak mendapat pertentangan dari warga sekitar.

“Maka dari itu, kami ingin sekali meng-edukasi mereka. Karena ketika mereka telah di edukasi maka muncullah jiwa kritis itu, dan mereka tau membedakan mana baik mana benar.  Bahkan sempat ada beberapa pihak yang tidak suka sama kami, membuat stigma bahwa kami ini antek-antek PKI, agar masyarakat menjauhi kami,” ungkapnya.

Menjadi aktivis lingkungan bukanlah perkara mudah. Karena sejatinya yang dilawan bukan hanya hal-hal kecil yang merusak lingkungan, melainkan juga melawan sebuah piramida oligarki yang sangat-sangat sulit untuk diruntuhkan.

“Sebenarnya negara-negara ini akan diwariskan kepada kalian kaum kaum muda, bumi ini pun begitu. kalian yang akan meneruskan dan merasakannya kedepan.  Kami ini sebenarnya melindungi dan menghalangi kalian agar tidak merasakan dampak terparah dari kerusakan ini, Oleh karena itu, bantu lah kami.” Begitu pesan Mimi sebagai direktur dari yayasan Srikandi di akhir sesi wawancara.

Bumi ini tanggung jawab kita bersama. Karena sejatinya bumi ini akan diwariskan kepada kita dan juga generasi setelah kita. Maka dari itu jagalah bumi agar Bumi pun senantiasa menjagamu. Ketika kita menyembuhkan bumi, maka kita menyembuhkan diri kita sendiri.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri

Related posts

APM SUMUT Gandeng LPM Neraca Adakan Halal Bihalal: Indahnya Silahturami Sesama LPM 

redaksi

Perempuan Hari Ini, Komunitas untuk Membangun dan Mencapai Kesetaraan Gender!

redaksi

HIMATEK dan BKKMTKI Himpun Serta Salurkan Dana Peduli Banjir NTT

redaksi